Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Banyak Pemulung dan Pengemis Bermunculan, Dosen FISIP UBB Sebut Pemerintah Perlu Lakukan Persuasi

Akhir-akhir ini, pemulung, pengemis dan pengamen di tengah Kota Pangkalpinang semakin banyak terlihat.

Ist/Ibrahim
Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Akhir-akhir ini, pemulung, pengemis dan pengamen di tengah Kota Pangkalpinang semakin banyak terlihat.

Bahkan, pemulung yang mendorong gerobak sambil membawa anak kecil saat melakukan aktivitasnya.

Tak hanya itu, mereka juga duduk berlama-lama di tepi jalan, seakan menunggu sesuatu sambil istirahat.

Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim mengataka bermunculannya pengemis dengan beragam modus sebenarnya melecut keprihatinan semua pihak.

"Karena setidaknya ada dua objek yang umumnya jadi korban, yaitu perempuan dan anak," ujar Ibrahim saat dihubungi bangkapos.com, Rabu (6/5/2020).

Menurtunya, dua kelompok ini biasanya rentan sebagai korban eksploitasi karena memang lebih cepat menimbulkan rasa iba bagi yang melihatnya.

Banyak dermawan yang terhenyak dan umumnya empatik sehingga tak sungkan memberikan bantuan.

Pada akhirnya mengemis memang identik dengan modus meminta empati publik sehingga diharapkan belas kasihan itu diwujudkan dalam bentuk pemberian uang atau materi pada pengemis.

"Menurut saya, pemerintah harus melakukan persuasi secara tepat. Jika dibiarkan tidak produktif bagi pemberdayaan kelompok anak dan perempuan,"jelasnya.

Lebih lanjut, Ibrahim menutukan melalui perangkat dinas sosial, pemerintah daerah harus melakukan pendekatan kepada kelompok ini.

"Sasarannya saya kira adalah hulu, yakni orangtua atau suami dari pengemis karena harus bertanggungjawab terhadap dampak yang akan timbul dari kebiasaan mengemis dalam jangka panjang," sebut Ibrahim.

Diakuinya di kota Pangkalpinang sering menjumpai keluarga kecil yang mendorong gerobak sambil memulung di waktu senja. Ada juga dengan modus menggandeng orangtua dari rumah ke rumah.

"Di satu sisi kita membayangkan bahwa tidak ada yang menginginkan profesi mengemis jadi sandaran. Tapi jalan pintas tentu bukan jawaban yang tepat. Edukasi dan persuasi saya kira menjadi pekerjaan penting. Di luar itu, masyarakat sendiri harus menyalurkan empati sosialnya secara selektif agar tidak membudayakan kebiasaan instan untuk keluar dari belitan persoalan ekonomi," katanya.

"Bagaimanapun kita harus mempertimbangkan dampak psikologis dari pembiasaan meminta pada kelompok rentan, karenanya empati dan solidaritas kita harus proporsional dengan juga menakar aspek kebiasaannya agar tidak terpola," lanjut Ibrahim.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved