Breaking News:

Memutus Mata Rantai Thalassemia Mayor

8 Mei diperingati sebagai hari Thalassemia Internasional untuk mengenang para korban dan penderita Thalassemia.

Memutus Mata Rantai Thalassemia Mayor
IST/dok pribadi
dr Annette MSc, staf pengajar Fakultas Kedokteran Unair Surabaya

Annette d’Arqom, dr., M.Sc

(Staf pengajar FK UNAIR)

SETIAP tahunnya, 8 Mei diperingati sebagai hari Thalassemia Internasional untuk mengenang para korban dan penderita Thalassemia.

Pada tahun 2017, pasien Thalassemia di Indonesia tercatat sebanyak 8.011 pasien dan disinyalir meningkat 3.000 orang setiap tahunnya.

Penyakit ini merupakan penyakit katastropik yang menyedot dana BPJS keempat terbesar yang mencapai 2,15 M pada tahun 2014 dan berlipat ganda menjadi 4,77 M pada tahun 2016.

Biaya ini tentunya akan terus meningkat jika mata rantai penyakit yang memerlukan perawatan sejak awal kehidupan ini tidak diputus.

Thalassemia adalah penyakit genetik dengan kelainan pada sel darah merah. Penyakit ini disebabkan kelainan pada gen globin yang menyebabkan berkurangnya, atau bahkan tidak terbentuknya, protein globin yang merupakan pembentuk hemoglobin pada sel darah merah manusia.

Kelainan ini menyebabkan eritrosit atau sel darah merah mudah pecah sehingga pasien akan menderita anemia atau kurang darah.

Penyakit ini tidak menular, melainkan diturunkan dari kedua orang tuanya. Ada beberapa kemungkinan, yang pertama jika kedua orang tua adalah pembawa sifat thalassemia, maka kemungkinan anak lahir normal adalah 25%, 25% lainnya adalah penderita thalasemia mayor, sementara 50% nya akan membawa sifat thalassemia atau thalassemia minor.

Kemungkinan yang kedua adalah jika salah satu orang tua pembawa sifat thalassemia, maka kemungkinan anak lahir normal adalah 50%, sementara 50% lainnya akan menjadi pembawa sifat thalassemia.

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved