Breaking News:

Pilkada 2020

Pilkada Masih Tentatif, Sangat Tak Wajar Jika Politisi Mendompleng Popularitas saat Pandemi Covid-19

Politisasi Covid sepertinya tidak terhindarkan, namun publik dituntut untuk lebih jernih memisahkan batas-batas tugas dan pencitraan berbasis Covid.

Ist/Ibrahim
Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) yang juga sebagai pengamat politik di Babel, Ibrahim mengatakan terkait penundaan Pilkada serentak ke Bulan Desember 2020. Meski demikian, ia melihat bahwa kepastian pelaksanaan ini masih sangat tentatif.

"Karena ada pasal tambahan yang memberi opsi ditunda kembali dalam hal perkembangan wabah covid belum menunjukkan suasana bersahabat. Pemerintah memutuskan memberikan kewenangan penundaan selanjutnya kepada KPU sehingga prosesnya lebih pendek," ujar Ibrahim kepada Bangkapos.com, Jumat (08/05/2020)

Dia menyebutkan apabila pilkada serentak digelar Desember artinya akan ada pemadatan tahapan teknis yang harapan kita tidak mengurangi kualitas Pilkada.

"Perpu 02/2019 sekaligus memberi isyarat bahwa para calon tidak boleh kehilangan momentum untuk menunjukkan popularitasnya karena waktu bergerak mundur 7 bulan. Kesempatan untuk melaksanakan kampanye pendahuluan masih terbuka meski waktunya tidak bisa dikatakan panjang," tuturnya

Menurutnya pandemi covid menuntut para bakal calon kreatif untuk menarik hati para pemilih.

Larangan pengerahan massa dan pembatasan fisik menjadi alasan mengapa proses pencitraan ke depan akan mengalami kerumitan tersendiri.

"Bagi incumbent, mungkin lebih mudah melakukan upaya tersamar, sebaliknya bagi yang bukan incumbent sepertinya harus lebih jeli memanfaatkan situasi untuk bersinggungan dengan publik," ucapnya

Dia menuturkan politisasi Covid sepertinya tidak terhindarkan, namun publik dituntut untuk lebih jernih memisahkan batas-batas tugas dan pencitraan berbasis Covid.

"Saya kira tidak patut dilakukan oleh para politisi jika mendompleng popularitas ditengah pandemi Covid.  Di tengah kesulitan dan keprihatinan, empati harus disalurkan untuk kepentingan solidaritas sosial, bukan pragmatisme politik jangka pendek," jelasnya

Ibrahim menyarankan agar para politisi sebaiknya fokus pada membangun komitmen dan kinerja sesuai tupoksinya masing-masing. Menghindari politisasi adalah cara sederhana membangun empati politik.

"Bekerja sesuai kapasitas sekarang adalah jalan paling tepat agar Covid tidak menjadi ajang untuk saling menjatuhkan, apalagi mendapatkan keuntungan politis di tengah-tengah keprihatinan," tutupnya

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved