Berita Pangkalpinang

Pengakuan di Persidangan, Nakhoda Ungkap Nama Orang Batam Pemilik Kapal Hantu Penyelundup Miras

Terdakwa Nofrianto bersama tujuh ABKnya, kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pangkalpinang, Kamis (14/05/2020).

Bangkapos.com/Deddy Marjaya
Ditpolairud Polda Kepulauan Bangka Belitung saat mengamankan kapal tanpa nama yang membawa ribuan botol miras merk terkenal ilegal diamankan dari kapal hantu yang melintasi dari Batam tujuan Lampung diperairan Bangka Selatan Selasa (4/2/2020). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Terdakwa Nofrianto bersama tujuh ABKnya, kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pangkalpinang, Kamis (14/05/2020).

Dalam sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa, terdakwa Nofrianto yang berperan sebagai nahkoda kapal mengaku sudah tiga kali berlayar dengan membawa miras.

"Bawa minuman ini sudah yang ketiga kali, kalau untuk jalurnya beda-beda. Kapal itu punya Ardi orang batam, tiga kali bawa pake kapal itu juga.Tujuannya mau didistribusikan ke Lampung, kalau kita hanya bawa ke Lampung aja," ujar terdakwa Nofrianto.

Selain itu terdakwa Nofrianto yang ditangkap bersama ketujuh ABK yakni Supriyono, Syamsul Yahya, Muhammad Raimi, Jipriadi, La Ima, Sirat, dan Wandres diketahui membawa 1000 dus miras saat melintas di perairan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

"Saat ditangkap kami itu sedang melakukan pelayaran, menggunakan kapal jenis speed boat. Kami bawa saat itu minuman alkohol sekitar 1000 dus, dari berbagai macam merk," ungkapnya.

1000 dus miras yang juga dijadikan sebagai barang bukti, diakui terdakwa merupakan barang dari Singapura.

"Saat itu ada delapan orang di kapal minuman itu, kami dari OPL Batam mau dibawa ke Lampung. Sebelum dari OPL Batam minuman diambil dari Singapura, menggunakan kapal kayu lalu kemudian berganti kapal," jelasnya.

Terkait sebutan kapal hantu yang disematkan kepada kapal para terdakwa tersebut, dikarenakan kecepatan kapal memiliki kecepatan yang tinggi dalam mengarungi lautan.

Hal ini pun diungkap oleh saksi dari Pol Airud Polda Bangka Belitung, Asmadi yang melakukan penangkapan terhadap kapal tersebut pada Selasa (04/02/2020).

"Ada telepon dari masyarakat nelayan kalau ada kapal hantu melintas. Maksudnya kapal hantu itu kapal yang lajunya cepat, jadi kami menjuluki kapal hantu karena geraknya cepat," tutur saksi Asmadi dalam sidang sebelumnya, Selasa (12/05/2020).

Sementara itu satu unit kapal cepat tanpa nama dengan tujuh mesin penggerak dengan ukuran masing-masing 300 PK, serta sejumlah minuman keras dijadikan barang bukti persidangan.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa sidang pun ditutup dan dilanjutkan, pada Selasa (19/05/2020) dengan agenda tuntutan.  (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved