Breaking News:

Ramadan 2020

Warga Kampung Opas Meriahkan Penghujung Ramadan dengan Memasang Lampu Likur

Warga Kelurahan Opas Indah, Kecamatan Tamansari, memasang lampu likur di pekarangan rumah mereka dan sepanjang jalan

Istimewa/Jumli Jamaluddin
Lampu likur yang dibuat oleh warga Kelurahan Opas, Kecamatan Tamansari. -- 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Warga Kelurahan Opas Indah, Kecamatan Tamansari, memasang lampu likur di pekarangan rumah mereka dan sepanjang jalan untuk memeriahkan dan menambah semangat sepuluh malam terakhir puasa ramadan 1441 hijriyah.

Inisiatif warga membuat lampu likur dengan menggunakan bahan bambu, kaleng dan botol bekas yang dipasang sumbu tali kompor menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Inisiatif memasang lampu likur tersebut didukung dan dimotivasi oleh beberapa warga bersama Ketua Lembaga Partisipasi Pengawas dan Pemerhati Pelayanan Publik Bangka Belitung (LP5 Babel), Jumli Jamaluddin.

Salah seorang warga yang menginisiasi ide yakni Sajam (48) mengatakan lampu likur yang dipasang di depan rumah warga mulai dari malam kedua puluh sampai hari terakhir puasa ramadan.

Biasanya tradisi ini dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan, namun menurut dia warga Kampung Opas juga turut memeriahkan dan ingin melestarikan tradisi tersebut.

"Lampi likur dipasang sampai malam takbiran. Kami sebagai warga di Kota Beribu Senyuman ini juga ingin melestarikam tradisi ini," tutur Sajam, Senin (19/5/2020)

Bahan-bahannya dikumpul dari botol dan kaleng bekas yang tidak terpakai serta bambu yang diambil dihutan, sedangkan untuk sumbunya dari tali sumbu kompor dengan bahan bakar minyak tanah yang diperoleh dari bantuan warga.

Menanggapi kegiatan inisiatif warga ini, Pemerhati Publik dan Ketua LP5 Babel, Jumli Jamaluddin menuturkan kegiatan positif ini memang harus didukung dan dimotivasikan sebagai kreativitas warga maupun pemuda, terutama dalam memanfaatkan momen memeriahkan malam tujuh likur bulan ramadan yang menjadi tradisi di Bangka Belitung sejak dulu.

Jumli menuturkan tradisi ini sudah mulai langka dilakukan terutama di Kota Pangkalpinang seiring perkembangan zaman yang sudah semakin tersedianya lampu listrik penerangan jalan seperti saat ini.

Biasanya tradisi ini lebih dominan dilakukan di kampung atau di desa-desa. Itupun hanya beberapa desa tertentu saja yang masih melestarikan tradisi ini.

"Namun warga di wilayah ini (Kampung Opas) masih tetap menghidupkan tradisi ini meski sudah mulai dilupakan dan dilakukan secara sederhana. Sangat diapresiasi," kata Jumli.

Dia menuturkan meski sedang dihadapkan dengan pandemi covid-19, semangat dan keceriaan memeriahkan tradisi malam tujuh likur bulan puasa ramadan tetap dihidupkan secara sederhana dan tetap dibatasi dengan antisipasi serta pencegahan penyebaran covid-19.

(bangkapos.com/Ira Kurniati)

Penulis:
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved