Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Jalani Masa Karantina, Begini Saran Psikolog Agar Tidak Begitu Cemas

Menjalankan proses karantina tentu akan sedikit membosankan apalagi bagi sebagian orang yang tidak terbiasa berada di dalam rumah

Dinas Kesehatan Babel
Petugas Kesehatan ber-APD, saat memasuki ruang perawatan isolasi dan karantina 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Menjalankan proses karantina tentu akan sedikit membosankan apalagi bagi sebagian orang yang tidak terbiasa berada di dalam rumah, lantas apakah seseorang yang dikarantina akan memiliki masalah psikologis.

Dosen prodi psikologi IAIN SAS Babel, Wahyu kurniawan mengatakan, kondisi tersebut tentu saja akan berpengaruh pada psikologi orang yang sedang menjalankan masa karantina.

"Pertama kala proses ini dijalankan secara runut dengan batasan yang rinci sehingga kebebasan seseorang dianggap terbatas yang semula bisa melakukan aktivitas secara terbuka kini cenderung tertutup, semula dianggap hangat dan dilakukan bersama sama kini cenderung harus dibatasi," jelas Wahyu kepada Bangkapos.com, Kamis (28/05/2020)

Dia menyebutkan, belum lagi masa karantina yang belum tahu apakah reaktif atau non reaktif sehingga tak jarang kondisi ini cenderung membuat seseorang berprasangka buruk atas hasil yang dijalankan.

"Masa karantina ini juga akan memunclkan spekulasi sosial, ini yang dimaksudkan adalah kecenderungan masyarakat akan cenderung memberikan label bahwa keluarga SI A adalah individu yang diduga positif padahal belum tentu karena perbincangan dimasyarakat tergiring dengan lemahnya informasi positif bahwa apa yang dimaksudkan dengan karantina reaktif dan positif," jelasnya

Menurutnya, karantina dianggap membelenggu terlebih pada saat saat menjelang lebaran tentu ini berat untuk dijalankan, maka jelas bahwa ada semacam kecemasan yang dialami seseorang baik dari kecemasan secara fisik, psikologis dan sosial bagi seseorang yang dikarantina.

"Maka perlu ada semacam edukasi baik kepada individu yang menjalankan karantina, kepada petugas sehingga kegiatan apa yang harus dilaksanakan, perlu adanya kerjasama antar pihak medis dengan psikologis semacam program konseling yang sesuai dengan protokol covid, membuat program yang tidak membosankan, bersifat kreativitas, pemecahan masalah dan berlanjut sehingga proses pengisian waktu selama masa karantina tidak terlalu dirasakan," saran Wahyu.

Dia juga menuturkan, perlu adanya aktivitas fisik diluar proses karantina ruangan, misalkan berolahraga mandiri atau berkelompok kecil namun sesuai protokol yang berlaku.

"Adanya pemerintah berusaha memberikan perlindungan baik pemulihan nama kepada masyarakat dimana tempat individu dikarantina tadi sehingga tidak memunculkan stigma sosial yang berlebihan," sebutnya

Lalu kepastian hak-hak hidup, kata dia, semasa individu dikarantina, misalkan yang dikarantina ini adalah tulang punggung maka pemerintah wajib menjamin ketersediaan ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkan selama karantina.

"Mengakui secara bijaksana bahwa prosedur yang diberikan pemerintah adalah prosedur yang terbaik sehingga ada semacam keterbukaan diri sehingga lebih leluasa menerima bahwa dirinya dikarantina," ucapnya.

"Kedua proses pengembalian diri kepada Sang Pencipta bahwa segala hal yang dijalankan adalah proses hidup sehingga di dalam diri individu ada penerimaan bahwa tuhanlah segalanya ketiga, perlu menjalankan komunikasi dengan ahli psikologis/keluarga terdekat sehingga masalah masalah psikologis, perlulah semacam pelatihan berpikir positif bahwa apa yang dipikirkan yang negatif belum tentu benar dan mengarahkan diri pada hal yang baik," saran Wahyu.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved