Berita Sungailiat

Satpol PP Bangka Pantau Ratusan Ponton Tambang Ilegal Parkir di Perairan Pulau Pune Belinyu

Namun pasca lebaran tambang ilegal ini dipastikan tak beroperasi, melainkan hanya parkir di sekitar Pelabuhan Batudinding, tak jauh dari lokasi.

bangkapos.com/ferylaskari
Tampak di kejauhan, ratusan ponton tambang timah inkonvensional jenis rajuk-apung parkir di Perairan Pulau Pune Badudinding Belinyu Bangka, Kamis (28/5/2020) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ratusan ponton tambang timah inkonvensional (TI) jenis rajuk, sejak beberapa pekan terakhir merambah Perairan Pulau Pune Kecamatan Belinyu Bangka.

Tambang itu meresahkan nelayan lokal karena beroperasi di alur tangkap.

Namun pasca lebaran tambang ilegal ini dipastikan tak beroperasi, melainkan hanya parkir di sekitar Pelabuhan Batudinding, tak jauh dari lokasi tambang.

"Ponton TI cuma parkir di Perairan Pulau Pune Badudinding Belinyu, jumlahnya ratusan ponton," kata Plt Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka, Kusyono Aditama diwakili Kabid Penegakan Perundang-Undangan, Achmad Suherman, Kamis (28/5/2020).

Suherman menyatakan, Tim Satpol PP Bangka, Kamis (28/5/2020) datang ke Belinyu hanya sekadar melakukan pemantauan saja terkait informasi maraknya tambang ilegal di Perairan Pulau Pune tersebut.

Sebab beberapa pekan menjelang Idul Fitri 2020, diinformasikan tambang yang dimaksud beroperasi di perairan setempat.

Namun saat Tim Pol PP tiba di perairan ini, tak satu pun pekerja tambang yang beroperasi karena diduga pekerja tambang masih dalam suasana Idul Fitri.

"Yang jelas perairan ini (Pulau Pune) merupakan IUP PT Timah. Makanya kita berharap PT Timah memberi solusi karena TI-TI ini sebenarnya bisa diberikan ijin karena TI apung (rajuk) tidak menggunakan orang penyelam, jadi bisa diijinkan, apalagi IUP milik PT Timah," kata Suherman seraya menyebut jika sudah mengantongi izin maka tambang tersebut tak dianggap ilegal lagi.

Lalu bagaimana terkait keluhan nelayan lokal yang merasa terganggu karena TI Rajuk atau TI Apung tersebut berada di alur tangkap nelayan?

Apalagi keberadaan ratusan TI Rajuk-Apung ini dianggap merusak destinasi wisata lokal?

Halaman
12
Penulis: ferylaskari
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved