Breaking News:

Ibrahim : Pancasila Itu Kontekstual, Bukan Hafalan

Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim mengatakan pancasila itu sebagai kontekstual, bukan hafalan.

Ist/Ibrahim
Dosen FISIP yang juga Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB), Dr Ibrahim 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim mengatakan pancasila itu sebagai kontekstual, bukan hafalan.

"Pancasila pada dasarnya adalah tuntunan dan tuntutan. Sakralisasi Pancasila jangan bersifat simbolik, tapi aktual. Dari potensi nilai, ke aktualisasi nilai. Kecintaan pada bangsa ini berarti adalah komitmen untuk mewujudkan Pancasila. Kita harus menghentikan sakralisasi simbolik, namun tuna implementasi,"ujar Dr Ibrahim saat dihubungi bangkapos.com, Senin (1/6/2020).

Menurutnya, hari lahir Pancasila mestinya dipahami sebagai alarm bangun tidur bagi cara berbangsa dan berwarga.

Kohesi sosial selama ini retak karena cara menempatkan Pancasila masih sebagiannya pada level simbolik, sementara pada level perilaku dan teladan masih sering subjektif.

"Karena itu, di hari lahir Pancasila ini kita mestinya menyadari bahwa tantangan berwarga kita masih dirusak oleh paham-paham ekstrim dan perilaku tak Pancasilais," kata Ibrahim.

Ia mengusulkan agar Pancasila dipahami ulang dalam kerangka yang lebih nyata.

Menghargai perbedaan identitas dan pendapat, bijak bermedsos, kontributif pada covid, dan tabayyun pada setiap isu, menurutnya, akan lebih Pancasilais ketimbang selalu mengaku Pancasilais tapi mereka sendiri berpikir parsial, subjektif, dan antikebhinekaan.

Karenanya, ber-Pancasila mestinya dipahami sebagai perilaku ketimbang klaim tekstual dan simbolik.

"Bagi kalangan generasi muda, momentum Harlah Pancasila lebih kepada cara kita memahami dan mengamalkan. Pancasila hanya akan jadi pajangan jika kita tidak memahami hakikatnya. Bung Karno menggali nilai-nilai Pancasila dari budaya dan nilai masyarakat nusantara sendiri, karenanya ia eksisting dalam perilaku, bukan sekedar imajinatif," tutur Ibrahim.

Satu hal terpenting bahwa Pancasila itu kontekstual, artinya relevan disegala zaman dan strata usia.

Tafsirnya senantiasa mengikuti segala keadaan karena 5 sila pada dasarnya bersifat sebagai pilar, yang terpenting adalah tindakannya.

Maka Pancasilais itu ya perilakunya, bukan hafalannya. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved