Berita Pangkalpinang

Anggota DPRD Babel Ini Pertanyakan Penggunaan Dana Covid-19 di Bangka Belitung

Rina mengajak pihak-pihak terkait lainnya, agar dapat bersama-sama mengawasi penggunaan dana Covid-19 provinsi Babel.

(Bangkapos/Ramandha)
Anggota DPRD Provinsi Babel, Rina Tarol saat ditemui Bangkapos.com beberapa waktu lalu 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung (Babel), Rina Tarol menuturkan, sampai saat ini pihaknya masih mempertanyakan perihal penggunaan dana Covid-19 Babel.

Rina mengatakan, di DPRD hingga saat ini, juga belum mendapatkan laporan dan gambaran tentang apapun perihal bagaimana penggunaan dana Covid-19 ini.

"Banyak bantuan-bantuan pihak ketiga, termasuk APD (alat pelindung diri). Itu juga tidak jelas," jelasnya, Selasa (2/6/2020).

Rina juga mengkhawatirkan, dana Covid-19 tersebut dijadikan pertanggungjawaban untuk barang yang bantuan. Untuk itu, dirinya terus mempertanyakan hal itu.

Wakil rakyat dari fraksi PDIP ini, juga mengajak pihak-pihak terkait lainnya, agar dapat bersama-sama mengawasi penggunaan dana Covid-19 provinsi Babel.

"Sebenarnya harus diinvestigasi. jangan sampai, misalnya, contoh, dana ASN yang dipotong dimasukkin ke rekening Babel Peduli. Kita sebenarnya harus terbuka. Berapa itu bantuan, besarannya," ungkap Rina.

Ia juga menyampaikan keluhannya tentang alat PCR yang digunakan pemerintah daerah (pemda), dikarenakan hasil dari tes terbilang berhari-hari, sehingga membuat masyarakat menunggu, untuk memastikan status terkonfirmasi Corona.

Selain itu, informasi yang diketahuinya, bahwa alat PCR Pemerintah Provinsi (Pemprov) Babel merupakan alat pinjaman, dikatakan Rina, seharusnya dengan dana anggaran Covid-19 yang begitu besar, Pemprov Babel setidaknya dapat menyediakannya secara mandiri.

"Dengan anggaran dan bantuan yang segitu banyak, kok kita gak mampu beli sendiri. Belum lagi hasilnya lama diketahui. Kan jadi masalah baru," terusnya.

Ia berharap, Pemprov Babel dapat mencari solusi perihal lambatnya hasil test ini. Mengingat, keakuratan dan kecepatan test itu, sangat dibutuhkan masyarakat, terutama dalam mengantisipasi penyebaran Corona di sekitar mereka.

"Kita contohkan, misalnya ada masyarakat yang rapid test hasilnya reaktif. Nah, selama menunggu hasil swab PCR kan, secara psikologis mereka akan tertekan. Karena sebagian masyarakat tahunya kalau reaktif, kan masih belum pasti," pungkasnya.

(Bangkapos.com/Ramandha)

Penulis: Ramandha
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved