Berita Pangkalpinang

Kasus Dugaan Korupsi PT Timah Tbk Kini Sudah Masuk Proses Penyidikan

Kejati Bangka Belitung menggelar konferensi pers mengenai kasus pembelian biji timah kadar rendah yang melibatkan oknum di PT Timah Tbk, Selasa (2/6)

bangkapos.com / deddy marjaya
Kajati Bangka Belitung Ranu Miharja didampingi As Intel Johnny Wiliam Pardede dan As Pidsus Eddi Ermawan saat jumpa pers Selasa (2/6/2020). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kejati Bangka Belitung menggelar konferensi pers mengenai kasus pembelian biji timah kadar rendah yang melibatkan oknum di PT Timah Tbk, Selasa (02/06/2020).

Biji timah kadar rendah atau yang biasa disebut terak itu merupakan sisa hasil produksi (SHP) dengan kualitas tak sesuai spesifikasi.

Dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) dalam kasus itu lantaran biji timah yang dibeli mengandung terak.

Kegiatan itu dilakukan dalam program PAM aset dan SHP, di unit gudang Baturusa dan unit gudang Tanjung Gunung 2018-2019.

Kasi Pidsus Kejati Babel, Eddi Ermawan mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan upaya dalam pengungkapan dua kasus.

"Pidsus telah melakukan penyelidikan ada dua kasus, yaitu pertama kasus pembelian biji timah yang tidak sesuai dengan ketentuan. Lalu yang kedua mengenai penyimpangan terhadap fasilitas kredit di BRI cabang pangkalpinang dan kantor cabang pembantu BRI Depati Amir," ujar Eddi di ruangan media center Kejati Bangka Belitung.

Terhadap dua kasus tersebut, Eddi juga menegaskan saat ini sudah masuk ke tahap penyidikan dan akan dilakukan pemanggilan saksi.

"Dua kasus ini sudah kami lakukan puldata pulbaket permintaan keterangan, dan pada 29 mei 2020 dua penyelidikan ini sudah kita tingkatkan ke penyidikan. Sudah kita buatkan sprindiknya kita juga sudah buatkan jadwalnya, jadi minggu depan kita ada para pihak yang dimintai saksi. Jadi bukan lagi dimintai keterangan, tapi dimintai saksi," tegasnya.

Lebih lanjut mengenai adanya informasi mengenai beberapa karyawan PT. Timah Tbk yang telah menjalani pemeriksaan, Eddi mengatakan hal tersebut kapasitasnya bukan sebagai saksi.

"Jadi kemaren itu penyelidikan tidak ada yang namanya saksi, didalam penyelidikan itu adalah puldata pulbaket dan permintaan keterangan. Baru nanti ditingkatkan ke penyidik, baru statusnya berubah jadi saksi," ungkapnya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved