Berita Pangkalpinang

Bentuk Dukungan, Komunitas Warkop Om Ben Adakan Diskusi Bertema Rasisme

Peristiwa tersebut kemudian juga memicu inisiatif anggota komunitas Warkop Om Ben yang mayoritas berusia remaja untuk mengadakan diskusi tema rasisme

Ist.Nopri
Saat penandatangan petisi saat diskusi dengan tema rasisme serta penandatangan di poster sederhana di sekitar kawasan gedung nasional kota Pangkalpinang, Rabu (3/6/202) 

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Kematian pria kulit hitam asal Amerika berusia 46 tahun George Floyd, yang lehernya ditindih dengan lutut oleh seorang anggota kepolisian Minneapolis pada tanggal 25 Mei 2020 lalu, memicu gelombang protes anti rasisme hampir diseluruh penjuru dunia.

Peristiwa tersebut kemudian juga memicu inisiatif anggota komunitas Warkop Om Ben yang mayoritas berusia remaja untuk mengadakan diskusi dengan tema rasisme serta penandatangan di poster sederhana di sekitar kawasan gedung nasional kota Pangkalpinang, sebagai bentuk dukungan anti rasisme.

"Paling tidak, dengan adanya kegiatan diskusi ini menjadi pengingat kepada warga pulau Bangka untuk bisa menghargai perbedaan tanpa melihat ras, suku, agama apalagi warna kulit. Jangan sampai hal sama terjadi di Pulau Bangka dan Belitung. Karena di Pulau Bangka dan Belitung sendiri mempunyai keanekaragaman agama serta suku yang cukup banyak," jelas Ikhlas Safariansyah selaku koordinator kegiatan, Rabu (03/06/2020)

Kegiatan diskusi diikuti oleh bermacam perwakilan komunitas dari Pangkalpinang, mulai dari komunitas film Rumah Sriksetra, komunitas Pinguin Diving Club UBB dan sejumlah pemuda yang berminat di isu HAM.

"Seperti yang kita tahu bersama, di Bangka ini sangat kurang dalam hal merespon berbagai isu yang tengah hangat di dunia. Padahal, hal tersebut tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi di negeri serumpun sebalai ini," lanjut Ikhlas.

Salah satu peserta diskusi, Ego mengatakan sangat antusias dengan acara tersebut. Karena hal seperti ini sangat jarang diadakan di lingkungan pergaulannya di Pangkalpinang.

"Paling tidak bisa paham, bagaimana isu rasisme bisa sangat berbahaya dan dapat memicu gelombang protes yang begitu masif, jangan sampai hal tersebut terjadi di Pulau Bangka," katanya.

"Kepedulian masyarakat Pulau Bangka terkhusus para pemudanya terhadap berbagai peristiwa yang terjadi baik di dunia maupun di Bangka harus mulai dimulai dari sekarang, jangan sampai warga Pulau Bangka dicap apatis," ungkap Desi, seorangpeserta diskusi.

Kegiatan diskusi kemudian ditutup dengan penampilan akustik dengan menyanyikan lagu-lagu anti rasisme.

"Ini hanya awal, selanjutnya kami para pemuda akan lebih serius dengan berbagai persoalan di Pulau Bangka, baik tentang HAM maupun isu kerusakan lingkungan yang tengah terjadi di Pulau kita tercinta," kata Desi.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved