Breaking News:

Dokter Ingatkan Guru dan Siswa Jaga Jarak, Kalau Sekolah Dimulai Lagi, Kelas Dipisah Pagi dan Sore

Sampai saat ini belum ada keputusan dari pemerintah waktu pasti dari pemerintah kapan proses belajar dan mengajar bisa kembali di lakukan di sekolah.

Editor: fitriadi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Siswa sekolah dasar negeri 002 Ranai melakukan aktivitas belajar menggunakan masker di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, Selasa (4/2/2020). Bulan Juli, murid sekolah akan kembali masuk sekolah seperti sebelum masa pandemi corona. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Sampai saat ini belum ada keputusan dari pemerintah waktu pasti dari pemerintah kapan proses belajar dan mengajar bisa kembali di lakukan di sekolah.

Jika nanti proses belajar di sekolah dimulai banyak kebiasaan baru atau new normal yang harus diikuti guru dan siswa untuk mengantisipasi covid-19.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebutkan yang pertama harus memperhatikan prinsip kesehatan.

Guru maupun siswa harus menggunakan masker atau face shield dan saling menjaga jarak termasuk jarak antar siswa sekitar dua meter.

"Yang harus diperhatikan adalah prinsip kesehatan, physical distancing harus diterapkan, jarak satu siswa dengan siswa harus dua meter. Jarak antara pelajar harus dua meter," ungkap dr. Ari, Sabtu (30/5/2020).

Sekolah juga harus menyiapkan sarana mencuci tangan yang baik dan harus rutin melakukan pengecekan kesehatan saat guru dan siswa masuk ke lingkungan sekolah.

Mempertimbangkan hal-hal yang harus dilakukan di atas, dr. Ari menyarankan agar memperhitungkan jumlah siswa yang berada di kelas.

Jika memungkinkan ada pembagian kelas kembali atau diadakan kelas pagi dan siang sehingga murid tetap bisa menjaga jarak di kelas.

"Bisa saja kelas dipecah-pecah, bisa kelas pagi kelas sore atau begiliran masuk ke sekolah karena prinsipnya pshysical distancing harus diterapkan di pendidikan sekolah," kata dr. Ari.

Kebiasan-kebiasan baru ini tentunya akan membuat proses belajar mengajar tidak nyaman sehingga perlu pengertian dari siswa maupun orang tua sehingga dapat mendukung langkah-langkah untuk memproteksi kesehatan di sekolah.

"Kondisi memang tidak nyaman jadi peserta didik maupun orangtua harus memaklumi kondisi ini, peran orangtua memegang perama penting membibing putra putrinya agar bisa menyelesaikan pendidikan sebaik-sebaiknya," pungkas dr. Ari.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved