Breaking News:

Berita Sungailiat

Inovasi Pemkab Bangka Abang Timah Untuk Budisa Masuk Top 99 Sinovik Kemenpan Reformasi Birokrasi

Inovasi "Abang Timah Untuk Budisa" atau "Lahan Bekas Tambang Timah Untuk Budidaya Padi Sawah" berhasil masuk Top 99 Lomba Sinovik

Bangkapos.com/Edwardi
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Elius Gani 

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Pemkab Bangka kembali menoreh prestasi membanggakan, kali ini melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka membuat inovasi "Abang Timah Untuk Budisa" atau "Lahan Bekas Tambang Timah Untuk Budidaya Padi Sawah" berhasil masuk Top 99 Lomba Sinovik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) RI Tahun 2020 untuk kategori umum.

Lomba Sinovik ini merupakan kompetisi inovasi pelayanan publik di lingkungan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BUMN dan BUMD di Indonesia dalam 3 kategori, yakni umum, replikasi dan khusus.

"Dalam lomba Sinovik ini jumlah proposal inovasi yang masuk untuk kategori umum ini sebanyak 2.126 proposal inovasi dari seluruh lembaga kementerian, pemerintah kabupaten/kota se Indonesia dan instansi lainnya termasuk BUMN, BUMD, Alhamdulillah dari hasil penyaringan Tim Seleksi Kemenpan RB inovasi Pemkab Bangka masuk Top 99 ," jelas Elius Gani, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Senin (22/06/2020) di kantornya.

Diungkapkannya, latar belakang mengusulkan inovasi ini karena selama ini lahan bekas penambangan timah itu identik dengan lahan marginal karena miskin unsur hara dan diasumsikan sulit untuk dijadikan lahan pertanian .

"Tetapi ternyata asumsi ini terbantahkan oleh para petani yang ada di daerah Kelurahan Matras, Sinar Jaya dan Jelutung di Kecamatan Sungailiat ternyata lahan bekas tambang timah bisa diolah dan dijadikan lahan sawah untuk menanam padi dan menghasilkan," kata Elius.

Ditambahkannya, bahwa lahan sawah bekas tambang timah ini bisa ditanami setahun bisa dua kali panen.

"Tahun 2018, 2019 lalu sawah di lahan bekas tambang ini mampu menghasilkan padi sebanyak 4,2 hingga 4,8 ton per hektare jadi hasilnya hampir sama dengan sawah di lahan produktif, memang teknik pengolahan lahan bekas tambang ini teknisnya agak rumit karena harus memasukkan unsur hara ke dalam tanah bekas lahan tambang timah itu, tapi ini soal teknis saja intinya lahan bekas tambang tetap bisa diolah untuk dijadikan sawah menanam padi," ungkap Elius.

Dilanjutkannya melihat keberhasilan ini sehingga banyak dicontoh oleh para petani lainnya di Kabupaten Bangka, tetapi petani-petani ini bukan di lahan sawah melainkan di lahan kering untuk tanaman lainnya.

"Saat inikan banyak kita lihat petani yang menanam sayuran, buah-buahan di lahan bekas tambang seperti di Kecamatan Sungailiat, Belinyu, Pemali, Merawang dan lainnya. Asumsinya dari sisi teknis pertanian saat ini bercocok tanam tanpa tanah pun bisa asalkan unsur hara untuk tanamannya terpenuhi," imbuh Elius.

Diakuinya karena daerah Kabupaten Bangka ini merupakan daerah penambangan karena itulah masyarakat harus diajak dan diajarkan cara mengolah lahan bekas tambang supaya bisa dijadikan lahan pertanian yang produktif dan menghasilkan.

" Kita berharap inovasi Abang Timah Untuk Budisa ini bisa masuk atau lolos ke tahap Top 45 yang akan dilakukan seleksi berikutnya oleh Tim Kemenpan RB. Kita akan melakukan rapat untuk persiapan menghadapi seleksi tahap berikutnya semoga inovasi ini bisa masuk ke tingkat nasional," harap Elius.

Diungkapkan Elius beberapa waktu yang lalu DPRD Jepara pernah datang ke Kabupaten Bangka untuk mempelajari pertanian di bekas lahan tambang ini karena di daerah Jepara banyak lahan bekas tambang pasir.

"Pertanian di lahan bekas tambang ini secara tidak langsung juga membantu pihak PT Timah Tbk dalam mereklamasi lahan-lahan bekas tambang mereka, kalau masyarakat bisa memanfaatkannya secara tidak langsung sudah membantu program reklamasi bekas tambang ini," kata  Elius.

Menurut Elius sesuai visi dan misi Pemkab Bangka ke depan dalam RPJMD Kabupaten Bangka memang ingin merubah dari era tambang ke era pertanian dan pariwisata karena penambangan ini tidak bisa terbarukan, karena itu lah salah satunya ingin menggalakkan pertanian di lahan-lahan bekas penambangan ini.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved