Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Jalur Zonasi Sering Menjadi Polemik, Ini Penjelasan Kadindik Bangka Belitung Terkait PPDB SMA/SMK

Jalur penerimaan yang ditetapkan berdasarkan zonasi bertujuan untuk menyetarakan semua sekolah agar tidak ada mana sekolah favorit atau bukan.

Penulis: Riki Pratama | Editor: nurhayati
Diskominfo Babel
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Babel, M. Soleh 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), mengatur soal penerimaan siswa melalui jalur zonasi, mutasi, afirmasi, dan prestasi.

Dibandingkan tiga jalur lainnya, sistem zonasi inilah yang menimbulkan polemik di masyarakat.

Karena siswa yang diterima adalah rumahnya terdekat dari sekolah tanpa mempertimbangkan nilai.

Lantaran kuota terbatas, siswa yang memiliki nilai bagus kalah dari siswa biasa-biasa saja tetapi rumahnya dekat dari sekolah.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, M Soleh, menjelaskan bahwa jalur penerimaan yang ditetapkan berdasarkan zonasi bertujuan untuk menyetarakan semua sekolah agar tidak ada mana sekolah favorit atau bukan.

"Berdasarkan aturan pemerintah pusat jalur PPDB ini untuk jalur zonasi murni berdasarkan jarak rumah terdekat ke sekolah, untuk SMA dan SMK ada perbedaan. Untuk SMA zonasi dilihat dari kelurahan/desa, sementara untuk SMK zonasinya dilihat dari wilayah kabupaten/kota, karena SMK hanya memiliki satu kompetensi, berbeda dengan SMA,"j elas M Soleh kepada Bangkapos.com, Selasa , (23/6/2020).

Soleh menambahkan, dalam jalur zonasi juga diatur, bahwa siswa yang ingin mendaftar melalui zonasi dengan dilihat dari Kartu Keluarga.

"Jadi kalau untuk SMK tidak ada zonasi murni, tetapi ada melalui prestasi dalam zonasi sebesar 65 persen dan prestasi diluar zonasi 10 persen, sementara untuk SMA ada zona murni 50 persen di tambah jalur prestasi dalam zonasi 15 sebesar persen," ungkapnya.

Soleh menambahkan apabila siswa yang memiliki prestasi dan berada dalam zonasi sekolah terdekat bisa memanfaatkan jalur tersebut karena memiliki kuota sebesar 15 persen.

"Lewat seleksi jalur prestasi dalam zonasi ada 15 persen dan perlakuannya sama, dilihat dari nilai UN, raport, Indek sekolah ditambah piagam penghargaan. Kalau melalui jalur zonasi murni yang menentukan melalu KK kalau dia jalur prestasi melalui KK dan nilai raport, piagam penghargaan," jelas Soleh.

Dia mengakui, mengenai masih banyaknya siswa yang tidak diterima karena tidak cukup kuota, itu disebabkan keterbatasan daya tampung sekolah negeri.

"Apabila tidak bisa masuk ke sekolah negeri tentunya ada sekolah swasta, dan sekolah negeri ini tidak semua bisa menampung maka ada sekolah swasta itulah mitra sekolah menampung anak anak yang ingin bersekolah," saran Soleh.
(Bangkapos.com/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved