HORIZZON
Dua Anomali Covid-19 yang Seragam
Siapa tahu Covid-19 bukan menular melalui droplet atau aerosol, melainkan mudah menular melalui pikiran
ANOMALI dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diuraikan sebagai `tidak seperti yang pernah ada; penyimpangan dari yang sudah ada' atau `penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian eksplorasi.'
Tidak terlalu memaksakan tampaknya ketika kita menggunakan istilah anomali ini untuk melabeli kasus Covid-19 yang terjadi di Toboali, tepatnya kasus Covid-19 dengan pasien Daniel Antonius, seorang pendeta senior di Bangka Selatan.
Jika dilihat dari sudut pandang penularan Covid-19, kasus yang menimpa Daniel Antonius ini tak berlebihan jika disebut sebagai anomali.
Pemahaman umum menyebutkan bahwa virus corona sangat mudah menular.
Covid-19 menular melalui droplet dan aerosol sehingga orang yang terkena percikan batuk dari orang yang terpapar virus bisa tertular.
Atau jika tangan kita menyentuh benda yang terpapar virus dalam kurun waktu tertentu dan kemudian tangan kita menyentuh mata, mulut, atau hidung, kita bisa tertular virus.
Pemahaman umum terhadap virus yang kemudian diyakini inilah yang kemudian menjadi dasar bagaimana kita harus cerdas bersikap agar tak tertular virus.
Dari pemahaman ini pula, pihak berkompeten kemudian menerbitkan regulasi dan juga panduan umum kepada publik agar virus bisa dikendalikan.
Panduan inilah yang kemudian diterbitkan termasuk dikuatkan dengan regulasi resmi agar lebih mengikat.
Covid-19 kita pahami sebagai virus yang sangat berbahaya dan sangat menular yang akhirnya terbitlah apa yang disebut sebagai protokol kesehatan yang harus kita patuhi.
Langkah ini tentu tak perlu diperdebatkan.
Menerbitkan regulasi dan juga termasuk protokol kesehatan ini memang harus dilakukan untuk melindungi masyarakat dan lebih jauh lagi, menjamin keberlangsungan peradaban manusia yang terancam Covid-19.
Masih ingatkah kita saat berdebat soal lockdown?
Lockdown yang tak jadi diberlakukan adalah salah satu langkah yang sempat menjadi diskusi hebat.
Di satu sisi, lockdown diyakini efektif untuk menutup ruang gerak manusia yang artinya juga menutup ruang gerak virus yang tak bisa ke mana-mana tanpa ada pergerakan manusia.
Setelah diskusi panjang, regulasi yang muncul adalah PSBB atau pembatasan sosial berskala besar yang substansi sebenarnya adalah lockdown dalam skala kecil.
Selain lockdown, masih nyaring terdengar di telinga kita kampanye stay at home, work from home, physical distancing, pakai masker, sering cuci tangan, dan sebagainya.
Aturan lain yang imbasnya masih terasa sampai sekarang, yang kita yakini ditujukan untuk memutus mata rantai dan penularan Covid-19 adalah ibadah di rumah, penutupan penerbangan atau persyaratan rapid test untuk terbang dan banyak regulasi lainnya.
Anomali kasus Covid-19 di Toboali mungkin tidak begitu kuat untuk menyoal pemahaman umum yang selama ini kita yakini terkait dengan corona.
Betul memang, Daniel Antonius dan istrinya Ribkah Salim terpapar Covid di Jakarta dan setelah pulang ke Toboali tidak satu pun keluarga intinya dan orang-orang yang berinteraksi tertular.
Betul memang, 38 orang yang ditracking kemudian dilakukan rapid test dan swab kepada mereka, tidak ditemukan paparan virus yang diduga berasal dari Daniel Antonius dan Ribkah Salim.
Padahal dari testimoni keluarga, interaksi erat terjadi di antara mereka, baik dengan Daniel Antonius maupun Ribkah Salim.
Salah satu anaknya bahkan minum dari pipet yang sama dengan Daniel Antonius.
Satu anomali bisa kita abaikan.
Namun jika muncul lagi anomali lain yang serupa dan seragam dengan kasus Toboali, rasanya tak pantas jika kita tak mencoba menguatkan tanya atas apa yang telah kita pahami dan yakini bersama.
Solwati, warga Temberan, Pangkalpinang, bernasib sama dengan Daniel Antonius.
Ia meninggal dunia saat statusnya dinyatakan positif terpapar Covid-19.
Yang berbeda, Solwati berusia 42 tahun sedangkan Daniel Antonius berusia 72 tahun.
Perbedaan lainnya, sebelum dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia, Solwati telah menderita penyakit komplikasi sejak empat tahun lalu.
Namun senada dengan kasus Covid-19 di Toboali, kasus covid-19 di Temberan ini juga tidak ditemukan jejak penularan virus kepada orang-orang yang berinteraksi.
Pihak berwenang telah melakukan pemeriksaan prosedural kepada 15 keluarga inti dari Solwati.
Hasilnya, tidak satu pun terdeteksi paparan virus terhadap mereka.
Kembali, satu anomali mungkin bisa diabaikan.
Namun jika ada dua anomali yang seragam, dosa rasanya ketika kita mengabaikannya.
Ini harus menjadi perhatian serius, kita kuatkan tanya dan harus dijawab dengan riset.
Atau mungkin, jika kita lebih jeli bukan hanya dua anomali tetapi lebih banyak anomali tentang perbedaan cara penularan Covid-19.
Bisa jadi anomali-anomali ini sebenarnya dominan tetapi tersembunyikan hanya lantaran kita lebih peduli dengan angka-angka yang setiap hari kita dengar dan baca di pemberitaan.
Dua anomali yang sudah terverifikasi ini layak untuk diangkat menjadi diskusi serius dan kemudian dibawa ke ranah ilmiah.
Negara wajib menjadikan ini sebagai standing agar regulasi yang dikeluarkan benar-benar berdasar pemahaman empiris sekaligus ilmiah, bukan adopsi literasi dari luar negeri yang diterapkan begitu saja.
Siapa tahu justru pemahaman umum yang selama ini kita yakini ternyata salah.
Siapa tahu Covid-19 bukan menular melalui droplet atau aerosol, melainkan mudah menular melalui pikiran. Jika betul, bukankah virus ini jauh lebih berbahaya?
Bukankah di sejarah peradaban kita pernah meyakini sesuatu yang salah? Dahulu sebelum ada penelitian, nenek moyang kita meyakini bahwa matahari mengitari bumi. Nenek moyang kita juga meyakini bahwa bumi itu datar.
Untuk itu, tanpa bermaksud mengurangi kepatuhan kita terhadap protokol kesehatan terhadap Covid-19, kasus Toboali dan Temberan yang secara faktual menunjukkan bahwa Covid-19 tidak menularkan kepada mereka yang berinteraksi erat patut dijadikan riset serius. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)