Berita Pangkalpinang

Pengamat Ekonomi Sebut Rapid Test Diduga Jadi Ladang Bisnis, Kembalinya Geliat Industri Penerbangan

Bentuk adaptasi kebiasaan baru (new normal), masyarakat dapat melakukan penyesuaian terhadap kegiatan perjalanan khususnya pada perjalanan udara

bangkapos.com/Jhoni Kurniawan
Ilustrasi Petugas medis saat melakukan Rapid Test Massal 

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen STIE Pertiba Pangkalpinang, Suhardi mengakui sebagai salah satu bentuk adaptasi kebiasaan baru (new normal), masyarakat dapat melakukan penyesuaian terhadap kegiatan perjalanan khususnya pada perjalanan udara.

"Industri penerbangan harus dibuka walaupun dengan kapasitas yang berangsur-angsur dari 50 persen menjadi 70-100 persen. Adaptasi ini bertujuan untuk memutar roda perekonomian melalui aktivitas bisnis dan non bisnis masyarakat, sehingga ekonomi tidak mengalami keterpurukan yang lebih jauh," ungkap Suhardi, Selasa (30/6/2020).

Dalam hal ini, tentunya disepakat ketika melakukan perjalanan harus dengan protokol covid-19 yang ketat, tujuannya agar wabah tersebut tidak menyebar secara masif.

Namun menurutnya sejalan dengan itu, dokumen kesehatan yang jadi syarat naik pesawat terbang di saat New Normal dinilai sempat membingungkan.

"Selain prosesnya yang lama, ongkos tes kesehatan yang cukup mahal berdampak pada menyusutnya minat orang untuk terbang," kata Suhardi.

"Bahkan ada yang berseloroh rapid test sebagai ladang bisnis baru, di tengah ekonomi mengalami keterpurukan dan daya beli masyarakat yang rendah," lanjutnya.

ALAT RAPID TEST - Seorang jurnalis menunjukan alat yang digunakan untuk rapid test di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bangka Belitung, Rabu (8/4/2020).
ALAT RAPID TEST - Seorang jurnalis menunjukan alat yang digunakan untuk rapid test di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bangka Belitung, Rabu (8/4/2020). (BANGKA POS/RESHA JUHARI)

Diakui Suhardi, selorohan ini tentu wajar sebab dalam beberapa kasus biaya ekstra yang harus dikeluarkan calon penumpang cukuplah mahal berkisar antar Rp 225.000 ke atas untuk rapid test, walau ada beberapa yang mematok harga dibawah harga tersebut.

Selorohan ini menjadi tambah beralasan ketika hasil tes hanya berlaku untuk masa 3 hari, walau dalam perkembangan terkini gugus tugas telah memperpanjang masa berlaku rapid tes menjadi 14 hari.

"Lebih jauh, jika kita runut, rapid test masih diragukan akurasinya untuk memastikan orang terpapar covid-19 atau tidak. Bahkan PB IDI menjelaskan rapid test hanya bisa menunjukan hasil positif Covid-19 jika virus tersebut telah berada tujuh hari dalam tubuh," jelas Suhardi.

"Kalau belum tujuh hari dan dites tentu akan menunjukan reaksi negatif meskipun virus telah berada di dalam tubuh. Artinya, hasil rapid test kurang akurat jika penumpang yang akan menaiki pesawat melakukan rapid test dengan waktu inkubasi virus yang berada di bawah tujuh hari," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved