Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Nonton Film Korea Sampai Menangis, Psikolog Sebut Itu Emosi yang Sehat

"Itu sesuatu hal yang sehat kok, ketika kita menangis merasa terenyuh atau terharu itu menandakan kita memiliki emosi yang sehat," lanjutnya.

Foto Ist/Primalita
Psikolog sekaligus Dosen IAIN SAS Bangka Belitung, Primalita Putri Distina, M.Psi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Seseorang kerap kali terbawa suasana saat sedang menonton film Korea atau India bergenre sedih bahkan sampai menangis.

Dosen Prodi Psikologi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung Primalita Putri Distina menilai hal tersebut sesuatu yang wajar dan memiliki emosi yang sehat.

"Itu wajar, kita menangis ketika melihat ada adegan-adegan yang sedih karena manusia dianugerahi berbagai emosi, marah, senang, sedih dan kecewa," ujar Primalita, Minggu (5/7/2020).

"Itu sesuatu hal yang sehat kok, ketika kita menangis merasa terenyuh atau terharu itu menandakan kita memiliki emosi yang sehat," lanjutnya.

Selain itu, hal ini juga menunjukan seseorang memiliki kepekaan emosional yang tinggi atau empati.

Menurutnya, empati sangat penting sebab berfungsi untuk memahami orang lain baik perasaan, pikiran dan tindakan orang lain sehingga ia menilai ini sesuatu hal yang baik.

"Kenapa bisa sampai menangis, karena ada proses empati. Kita secara tidak sadar kita memposisikan diri kita menjadi tokoh yang kita tonton. Misalnya lagi jalan cerita mirip dengan hidup kita, sehingga saya merasa tau rasanya," jelas Primalita.

Pada dasarnya film sedih dirancang untuk mempengaruhi penonton untuk menimbulkan sensasi emosional.

"Proses emosi itu ada di dalam otak kita, ketika kita menonton film yang menyedihkan maka otak kita akan mengeluarkan hormon oksitosin, yang akan membuat kita terhubung dengan orang lain. Membuat kita lebih empati, memahami orang dan tidak bertindak egois," ungkap Primalita.

Ia menjelaskan, menangis karena menontotn sebagai sesuatu yang wajar dan tanda bahwa orang memiliki emosi yang sehat di waktu dan kondisi yang tepat.

Hal ini dinilai tidak terlalu menganggu psikologis seseorang,

"Jadi ini tidak terlalu menganggu, tapi itu akan menganggu bila kita tidak dapat membedakan dunia drama dan nyata. Sehingga tidak dapat membedakan mana yang benar dan tidak di dunia nyata dan drama," sebut Primalita.

Ia menyarankan agar dapat membedakan kenyataan dan fiksi.

Kalau bisa, lebih baik tidak menonton film yang dapat memicu untik bertindak emosional berlebihan.

"Misalnya kalau kita pernah mengalami kejadian tidak mengenakan dan kita menonton film yang sama dengan kita sehingga membuat perasaan kita tidak enak, lebih baik jangan ditonton ditakutkan memicu trauma,"tutur Primalita. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved