Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Cegah Anak Terpapar Konten Negatif, BKKBN Sebut Perlu Peran Aktif Sosok Ayah

Faktor lain atau kendala sulitnya mengontrol anak kecanduan gawai karena orangtua bekerja, sehingga saat pulang sudah lelah dan terjalin komunikasi

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Hendra
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
Kepala Perwakilan BKKBN Bangka Belitung, Fazar Supriadi Sentosa 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Perwakilan BKKBN Bangka Belitung Fazar Supriadi Sentosa mengatakan perlunya peran aktif sosok ayah agar anak lebih terkontrol bermain gawai sehingga meminimkan terpapar konten tak senonoh.

"Kesadaran orangtua masih kurang, kadang dikarenakan tersangkut ekonomi juga sehingga anak tidak terkontrol lagi. Peran orangtua laki-laki atau ayah juga sangat besar harusnya, karena perannya membimbing dan perlu ditingkatkan lagi,"ujar Fazar saat ditemui bangkapos.com, Senin (6/7/2020).

Lebih lanjut, ia mengatakan peran ayah tersebut sangat besar pengaruh, hal ini dikarenakan sudah ada penelitiannya.

Selain peran orangtua baik ayah dan ibu, tentu peran lingkungan dan teman-temannya juga berpengaruh.

Serta faktor lain atau kendala sulitnya mengontrol anak kecanduan gawai karena orangtua bekerja, sehingga saat pulang sudah lelah dan terjalin komunikasi yang buruk dengan anak.

Bahkan juga faktor lain dikarenakan pemahaman orangtua juga berbeda-beda, hal ini juga dipengaruhi oleh pendidikan orangtua.

"Ini biasa terjadi di daerah pendesaan sehingga orangtua di sana pola pikir akan berbeda karena dipengaruhi pendidikan," jelas Fazar.

Ia juga menyebutkan bahwa BKKBN itu melakukan berbagai pembinaan keluarga, tentang pengasuhan kepad ibu-ibu. Ada Bina Keluarga Balita, Anak dan Bina Keluarga Remaja.

"Kalau balita, orangtua kita sampaikan jangan terus menerus membiarkan anak bermain gadget, harus diberi waktu dan diatur. Sehingga perlu ada pemantaun," saran Fazar.

Diakuinya, kelemahan orangtua kalau lihat anak menangis malah dibujuk dengan diberikan gawai.

"Itu tidak boleh, itu nanti bikin candu kalau kata WHO itu nanti gangguan mental," ujar Fazar.

"Kalau binaan remaja lebih ditekankan lagi mengenai dampak negatif dari konten porno karena pengaruhnya besar sekali," tuturnya.

Pihak BKKBN sudah berusaha memberikan pemahaman terkait pengasuhan anak yang baik namun hal itu kembali kepada orangtua dalam penerapannya.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved