Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Sidang Batako Berbahan Mineral Ikutan Timah, Keterangan Saksi Berbeda dengan Dakwaan JPU

Dalam keterangannya saksi Rangga mengatakan penangkapan berawal dari terungkapnya penyelundupan batako oleh Polda Sumatera Selatan

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)
Suasana sidang saksi dengan terdakwa Syamsul Arifin, di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pangkalpinang, Senin (06/07/2020). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Terdakwa Syamsul Arifin kembali menjalani sidang tindak pidana mineral dan batubara, di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pangkalpinang, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, Senin (06/07/2020).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tiga saksi dari Dit Reskrimsus Polda Bangka Belitung. Saksi merupakan anggota kepolisian yang melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Dalam keterangannya saksi Rangga mengatakan penangkapan berawal dari terungkapnya penyelundupan batako oleh Polda Sumatera Selatan.

"Pertama kali ada penangkapan tentang batako sebanyak lima truk, lalu mereka berkoordinasi katanya ada pembuat batako di Bangka. Lalu pengembangan ada pencetakan batako milik Syamsul di jalan Simpang Payung, Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan," ujar saksi Rangga.

Saat dilakukan penangkapan, terdakwa mengaku batako yang dibuatnya dari mineral ikutan timah yakni monazite, ileminite dan zircon.

Mineral ikutan tersebut didapat dari Yogi dan Wawa Sarwa.

Sementara itu di dalam dakwaan JPU tidak sebutkan adanya nama Yogi yang memasok mineral ikutan ke terdakwa Syamsul.

Di dakwaan JPU pemasok mineral ikutan tersebut yakni Tupo sebanyak 36 ton seharga Rp 180 juta, Bujang Halus sebanyak 34 ton seharga Rp 170 juta, Ribut sebanyak 34 ton seharga Rp 170 juta, Dul Ketam sebanyak 100 ton seharga Rp 500 juta dan AN sebanyak 37 ton seharga Rp 185 juta.

Namun saksi dalam persidangan justru mengatakan kelima orang tersebut, hanya berperan sebagai penyewaan pemisahan mineral.

"Mereka ini dapat bahan dari Yogi, jadi dia ngumpulin dari penambang-penambang sisa pasir timah. Wawa juga mengumpulkan, nah Wawa dia dapat dari Yogi, kalau lima orang itu penyewaan jasa saja pemisahan pasir menjadi mineral. Kelima ini bukan pemasok, tapi pemasoknya yogi, atas perintah Syamsul," jelasnya.

Lebih lanjut saksi lain Rama mengungkapkan, terdakwa Syamsul Arifin menerima aliran dana sebesar Rp 5 miliar dari Zhe (DPO) yang merupakan warga negara Taiwan.

"Untuk pendanaan dari Taiwan melalui rekening Wawa, saat ditangkap ada uang sisa operasional ada sisa uang. Mereka buat untuk dikirim ke Cina, tugas mereka hanya membuat saja. Produk mereka ini belum sempat ada yang ke Cina, lima truk yang ditahan untuk satu truk berisi 1 ton," ungkap saksi Rama.

Sementara itu usai mendengarkan keterangan saksi, sidang pun ditutup dan dilanjutkan pada Rabu (08/07/2020) dengan agenda saksi.

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved