Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Hari Anak Nasional, Psikolog Sarankan Orangtua Selalu Memberikan Edukasi Kepada Anak

Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2020 diperingati berbeda dari tahun sebelumnya, yaitu di tengah pandemi Covid-19.

IST/Siska
Biro Psikologi Q-tha sekaligus Dosen Konseling Pendidikan Islam IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramitha 

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2020 diperingati berbeda dari tahun sebelumnya, yaitu di tengah pandemi Covid-19.

Seperti yang kita ketahui, selama empat bulan ini anak-anak terpaksa belajar dari rumah dengan akses pendidikan terbatas.

Di sisi lain juga, masih ada ditemukan anak-anak yang mengalami kekerasan baik lisan maupun fisik.

Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita mengakui bahwa memberi pemahaman kepada anak dalam hal apapun memang tidak mudah. Apalagi terkait perlindungan terhadap diri sendiri.

Menurutnya, peran orangtua sejak dini harus bisa memberikan edukasi-edukasi terkait menjaga diri terhadap lingkungan sosial anak-anak.

"Tentu dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak," ungkapnya.

Dikatakan Siska, memberikan pemahaman kepada anak-anak juga bisa dibantu dengan memberikan berbagai contoh dari buku bacaan, tontonan anak-anak, atau dengan menggunakan alat peraga agar anak mudah memahami dan lebih tertarik untuk menyimak setiap informasi-informasi yang diberikan.

Dia mengatakan dengan cendrung meningkatnya kasus kekerasan pada anak, baik secara lisan maupun fisik, membuat orangtua harus lebih "aware" atau sadar dan terus mengikuti perkembangan zaman.

"Hal ini agar orangtua tidak tertinggal informasi-informasi baru sesuai dengan eranya,"ungkap Siska kepada Bangkapos.com, Kamis (23/7/2020).

Menurutnya, ketika anak sudah terlanjur mengalami kekerasan, baik fisik ataupun lisan, maka perlu penangan yang lebih intens oleh para ahli dalam hal ini psikolog.

"Penangan ini dilakukan agar anak tertangani dengan tepat, sehingga mental anak tidak terganggu," kata Siska.

Diakuinya beberapa terapi tersebut akan diberikan psikolog sesuai dengan penanganan kasus yang terjadi pada anak.

"Bisa dengan play therapy, biblioterapi, cognitif therapy dan banyak lainnya," saran Siska.

(Bangkapos.com/Sela Agustika)

Penulis: Sela Agustika
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved