Breaking News:

Berita Sungailiat

Luas Sawah Produktif Desa Banyu Asin Capai 70 Hektare, Hasilkan Beras Merah dan Putih

Masyarakat Desa Banyu Asin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka sejak dulu memang dikenal sebagai petani ulung

Bangkapos.com/Edwardi
Bustaman, PPL Desa Banyu Asin bersama petugas Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Banyu Asin 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Masyarakat Desa Banyu Asin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka sejak dulu memang dikenal sebagai petani ulung, terutama dalam hal menanam padi sistem ladang maupun sawah.

Karena itu lah Desa Banyu Asin dikenal sebagai salah satu lumbung padi pemasok beras lokal di Kabupaten Bangka, baik jenis beras merah dan beras putih.

Bustaman, petugas penyuluh lapangan (PPL) Desa Banyu Asin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka mengatakan potensi areal sawah yang ada di Desa Banyu Asin saat ini sekitar 95 hektare, tetapi yang baru bisa ditanami padi atau diproduksi sekitar 70 lebih hektare.

"Beberapa potensi lahan sawah yang belum berproduksi ini karena harus dilakukan perbaikan-perbaikan areal lahan sawah dengan menggunakan alat berat karena masih banyak terdapat bekas pohon-pohon dan akarnya belum tercabut," ungkap Bustaman di sela-sela kegiatan pembagian bantuan sosial paket sembako Tahap 3 Pemkab Bangka di Desa Banyu Asin, Selasa (28/07/2020).

Ditambahkannya, sistem penanaman padi di Desa Banyu Asin saat ini sudah IP (Indeks Penanaman) 200, artinya dalam satu tahun sudah bisa ditanami dua kali atau dalam satu tahun bisa dua kali panen.

"iP 200 ini artinya dengan dua kali tanam setahun untuk umur padi 100 hari atau 3 bulan ditanam bisa panen, apalagi jenis padi Inpari 24 dalam waktu dibawah 100 hari juga sudah bisa panen," ujar Bustaman.

Dilanjutkannya untuk padi hibrida umur panen biasanya lebih lama mencapai 110 hari baru panen.

"Untuk beras merah merupakan hasil padi jenis Inpari 24 sedangkan beras putih dari jenis padi Mapan P05 merupakan jenis padi hibrida. Kalau padi Inpari 24 itu masuk kelompok inbrida," jelas Bustaman.

Padi hasil panen para petani di Desa Banyu Asin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka
Padi hasil panen para petani di Desa Banyu Asin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka (Bangkapos.com/Edwardi)

Menurutnya, perbedaan padi kelompok hibrida dengan inbrida yaitu kalau hibrida ini bibitnya hanya bisa untuk satu kali kawin silang, sedangkan inbrida walaupun galur benihnya sama tetapi bisa diturunkan untuk dijadikan benih untuk penanaman selanjutnya, kalau hibrida benih padinya hanya bisa digunakan sekali pakai.

"Untuk masyarakat Desa Banyu Asin saat ini sudah banyak yang menggunakan benih padi hibrida ini, untuk mendapatkannya dengan cara membeli dari luar daerah. Kita mengirimkan dari perusahaan spesialis benih padi hibrida," jelas Bustaman.

Untuk hasil beras yang sudah dimasak hasilnya lebih pulen dari beras yang banyak beredar di pasaran saat ini seperti padi IR64.

"Sedangkan beras merah dari padi Inpari 24 juga hasil berasnya sangat pulen, hampir sama seperti ketan," kata Bustaman.

Pihak Pemdes Banyu Asin juga menggelar bazar yang menyediakan dua jenis beras produksi sawah lokal, yaitu beras merah dan putih dengan harga Rp 15.000 per kg dalam kemasan plastik transparan 5 kg bermerek BB (Beladang Besaoh).

(Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved