Breaking News:

Berita Pangkapinang

Alasan Seseorang Sering Mengikuti Tren, Berikut Penjelasan Psikolog

Dosen prodi psikologi IAIN SAS Babel, Wahyu Kurniawan mengatakan dalam psikologi sosial ada beberapa alasan mengapa seseorang mengikui tren

bangkapos.com/Sela Agustika
Dosen prodi psikologi IAIN SAS Babel, Wahyu kurniawan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dosen prodi psikologi IAIN SAS Babel, Wahyu Kurniawan mengatakan manusia merupakan mahluk biososiopsikologis yang pastinya menjalani serangkaian pola komunikasi, interaksi dengan lingkungannya.

Hal ini dikarenakan psikologi sosial dimana manusia berpikir tentang sesuatu, lalu mempengaruhi orang lain, dan kehidupannya sangat berkaitan erat antar satu sama lain.

"Sudah menjadi hukum pasti bahwa ada semacam hal baru yang di dapatkan jika interaksi tersebut intens dilakukan, salah satunya adalah mengola masalah mengikuti tren," ungkap Wahyu kepada Bangkapos.com, Jum'at (31/7/2020).

Dia mengatakan dalam psikologi sosial ada beberapa alasan mengapa seseorang mengikui tren ;

1. Adanya penguatan dari orang lain
Misalkan hari ini orang mengalami kesukaan membeli produk A, walapun produk tersebut sudah ada sejak dulu, namun pada tahun ini kegemaran pada produk A di anggap umum dan wow.

"Maka hal inilah menjadikan mengapa orang lain mudah mengikuti tren," ucap Wahyu.

2. Ada anggapan bahwa apa yang dilakukan orang lain adalah tindakan yang benar, maka orang akan mudah mengikutinya.

3. Ada tokoh berpengaruh atas hal-hal tertentu.

Lantas apakah salah seseorang mengikuti tren ?

Menurut wahyu, tren yang diikuti oleh seseorang ini bisa memiliki keuntungan ataupun kerugian tergantung dari berbagai sudut pandang yang mana

"Semuanya tergantung bagaimana cara mengikutinya, apakah akan berdampak buruk atau tidak, atau bahkan berdampak pada kebahagiaan semu saja,"ujarnya.

Dia menyarankan sebelum mengikuti tren setidaknya setiap individu harus mengetahui terlebih dahulu apakah tren yang saat ini diikuti bisa diterima, diraih, atau ada hal positif atau tidak bagi kehidupannya.

Selain itu seseorang juga perlu menganalisa apakah kebutuhan tersebut bermanfaat panjang atau tidak.

"Jangan hanya "kalah mata" asal ada hal baru pasti ingin ikut tanpa mengetahui dan menganalisa apakah hal tersebut berdampak baik atau buruk baginya," tutur Wahyu.

(Bangkapos.com/Sela Agustika)

Penulis: Sela Agustika
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved