Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Penyebab Konflik Buaya vs Manusia akibat Kerusakan Mangrove, BKSDA Babel Soroti Dua Hal Ini

Kerusakan hutan bakau (Mangrove) memang menjadi faktor penyebab konflik antara buaya dan manusia, khususnya di Bangka Belitung.

Penulis: | Editor: Ardhina Trisila Sakti
Dokumentasi Bangka Pos
Tampak Pawang Buaya, Mang Ademi (60) duduk di punggung buaya untuk mengikat tali agar buaya tidak mengamuk saat ditonton warga, Selasa (4/8/2020). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kerusakan hutan bakau (Mangrove) memang menjadi faktor penyebab konflik antara buaya dan manusia, khususnya di Bangka Belitung.

Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bangka Belitung, Septian Wiguna menyampaikan terdapat dua faktor penyebab konflik yang terjadi antara buaya dan manusia.

Dua faktor itu akibat kerusakan habitat buaya, serta tumpang tindih ruang aktivitas buaya dan manusia.

"Sebenarnya tidak semua sungai itu ada mangrovenya. Tapi memang dominan sungai itu ada mangrove di sekitarnya. Jadi pastilah ada pengaruhnya," jelas Septian, Rabu (5/8/2020).

Tampak Pawang Buaya, Mang Ademi (60) duduk di punggung buaya untuk mengikat tali agar buaya tidak mengamuk saat ditonton warga, Selasa (4/8/2020)
Tampak Pawang Buaya, Mang Ademi (60) duduk di punggung buaya untuk mengikat tali agar buaya tidak mengamuk saat ditonton warga, Selasa (4/8/2020) (bangkapos.com/Fery Laskari)

 Dalam kajian, berkurangnya jumlah Mangrove dapat mengurangi sumber pakan buaya.

Selain itu, ruang buaya dalam berkembangbiak serta beraktivitas juga berkurang.

"Ruang mereka bertelur dan lain sebagainya, itu sangat pasti menjadi faktor konflik antara buaya dan manusia, di sekitar mereka," ucapnya.

Tugas pokok BKSDA Bangka Belitung melindungi tumbuhan dan satwa liar serta mempunyai tugas menjaga kawasan konservasi BKSDA.

Untuk kawasan konservasi yang merupakan wilayah tugas BKSDA Bangka Belitung, terdapat tiga wilayah.

Seperti Taman Wisata Alam (TWA) Jering Menduyung, Simpang Teritip, TWA Sungai Permisan, Permis dan Taman Nasional (TN) Gunung Maras.

"Mangrove, kalau berada di kawasan konservasi itu menjadi kewajiban kita. Hanya saja kalau Mangrove di luar kawasan (konservasi) itu kewenangan pemerintah daerah masing-masing," terangnya.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved