Breaking News:

Konsultan Politik Yunarto Ungkap Citra Diri Calon Kepala Daerah, Jadi Masalah Jika Tak Sesuai Produk

Maka dari itu memang harus melakukan branding, bisa saja kebijakan para pejabat yang dilalukan branding atau dirinya sendiri.

kompas.com
Konsultan Politik sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Konsultan Politik sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya mengatakan pencitraan diri memang diperlukan bagi calon pemilihan kepala daerah, namun harus sesuai dengan substansi yang ada.

"Pencitraan diri sebenarnya bahasa terminologi positif ya, cuma saya bingung sering disalahartikan dalam terminologi negatif. Akar bahasanya branding, citra yang kemudian memang diekspose. Apakah itu salah? Ya gak mungkin," ujar Yunarto saat dikonfirmasi bangkapos.com, Senin (10/8/2020).

"Karena politik itu jabatan publik, salah satu fungsi utamanya adalah berkomunikasi, baik konteks dalam menjadi calon dalam pertarungan kampanye atau ketika sudah menjadi pejabat kepada masyarakat secara langsung," lanjutnya.

Menurut Yunarto, maka dari itu memang harus melakukan branding, bisa saja kebijakan para pejabat yang dilalukan branding atau dirinya sendiri.

"Yang bermasalah adalah ketika pencitraan diri tidak sesuai dengan substansi atau produk yang ada. Bahkan ada manipulasi dari citra yang dibangun itu menyebabkan bisa terjadi penyesatan informasi dan persepsi," jelas konsultan politik mantan Ahok ini.

Diakuinya, setiap kadidat akan memiliki citra diri yang berbeda-beda untuk ditunjukkan.

"Ada karakter orang yang suka turun ke lapangan langsung seperti seorang Jokowi, dibandingkan keahlian komunikasi massanya Anies Bawesdan dan Prabowo. Tentu saja dia akan lebih cocok turun dan komunikasi langsung dengan masyarakat. Adapula yang pihak cenderung lebih fokus kebijakan dan dicitrakan. Jadi beda-beda, sesuai dengan substansi sosok tersebut," kata Yunarto.

Dibeberkannya, konsultan politik sendiri secara logika harus menjadi otak tanda kutip dari kandidat yang maju.

"Menjadi guide, karena dia adalah pihak luar yang memberikan pandangan objektif dan memberikan pandangan helicopter view berbeda dengan tim sukses yang ngomong terbatas apa adanya," sebut Yunarto.

"Biasanya kita (konsultan politik-red) akan melakukan riset terlebih dulu, berdasarkan data objektif dan ilmiah. Dari situ kita tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing kandidat. Sehingga kita tahu apa ang harus dibangun sebagai sebuah citra, namun kembali lagi citra hanya satu dari banyak variabel untuk menentukan kemenangan," jelas Yunarto.

Kemenangan ditentukan juga dari bagaimana membangun jaringan politik, dan aktivitasi kegiatan di permukaan.

Serta adanya bantuan dari tim sukses melakukan door to door dan aktivasi relawan.

"Tugas konsultan politik itu, hulunya melakukan riset sampai hilirnya melakukan aktivasi jaringan sampai ke PPS. Kunci kemenangan adalah paling penting produk atau kandidatnya sendiri, memiliki perbedaan, nilai tambah atau tidak," papar Yunarto.

"Yang bisa dilakukan konsultan politik adalah mengekspose kelebihan dan mengubah persepsi orang terkait kekurangan kadidat, tapi tidak boleh lari dari produk apalagi menyesatkan atau menipu itu secara otomatis akan lemak kok masuk ke persepsi. Point paling penting bagaimana membangun brand original jadi nilai tambah dan terekspos ke publik sehingga peluang menang menjadi besar," tutur Yunarto. (*)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Rusaidah
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved