Breaking News:

Kisah Kebrutalan Aparat di Belarusia 'Mereka Dipaksa Berlutut dan Setengah Telanjang'

Kisah Kebrutalan Aparat di Belarus 'Mereka Dipaksa Berlutut dan Setengah Telanjang'

Sergei GAPON / AFP
Aksi demonstrasi di Belarus 

BANGKAPOS.COM - Para korban kebrutalan polisi di Belarus berbicara tentang pengalaman mereka yang ditindak keras aparat setelah pemilihan ulang Presiden Alexander Lukashenko yang dipersengketakan.

Melansir BBC, banyak pengaduan tentang pemukulan yang dilakukan polisi serta pelanggaran lain yang termasuk ke dalam kategori kekerasan fisik.

Pihak Oposisi pemerintah menuduh Lukashenki, yang telah berkuasa 26 tahun, melakukan kecurangan dengan mencuri kemenangan pada 9 Agustus kemarin, pada pemilihan umum yang dikritik karena kurangnya transparansi dan pembungkaman perbedaan pendapat.

Ratusan orang termasuk banyak polisi terluka dalam protes yang belum pernah terjadi sebelumnya di era modern Belarus.

Sebagian besar korban yang berhasil diwawancarai BBC Rusia menolak memberikan nama lengkap mereka, karena takut akan dianiaya oleh pihak berwenang. 

Berikut ini kisah mereka selengkapnya, mereka yang menjadi saksi mata selama kerusuhan pasca pemilihan presiden di Minsk, Belarus.

1. Alina Beresneva (20): 'Mereka dipaksa berlutut setengah telanjang'

Pada malam 9 sampai 10 Agustus kemarin, saya dan teman-teman kembali dari Minsk dan berjumpa dengan sekelompok Omon (Pasukan khusus polisi).

Kami tidak memprotes mereka, tapi mereka tetap menyuruh saya berlutut di tanah, saya masih punya goresan luka di lengan saya dan kemudian kami semua diikat dan dimasukkan ke dalam bus.

Mereka membawa kami ke Jalan Okrestina (pusat penahanan polisi). Di pintu masuk, berdiri seorang pria yang berteriak, "Lebih cepat, dasar kamu pelacur!"

Halaman
1234
Editor: Teddy Malaka
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved