Breaking News:

Kisah Petani Tambak Udang di Bangka, Sekali Panen Bisa Dapat 20 Ton (VIDEO)

Hanya dalam hitungan waktu 93 hari, sekitar 20 ton udang didapatkan. Udang jenis vaname itu dipanen pada delapan petak kolam saja.

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Hanya dalam hitungan waktu 93 hari, sekitar 20 ton udang didapatkan. Udang jenis vaname itu dipanen pada delapan petak kolam saja. Dapat dibayangkan dalam setahun, berapa produktifitas yang diraih. Begitulah potensi budidaya udang tambak air laut di sekitar Pantai Perairan Kuala Mapur Kecamatan Riausilip Bangka.

Ketika itu, Minggu (16/8/2020) petang, sejumlah pekerja berbondong-bondong turun ke dalam kolam. Mereka membentang jaring, lalu menariknya ke tepian. Percikan udang di permukaan air kolam pun tak terhitung jumlahnya. Maklum, panen kali ini cukup memuaskan.

"Kali ini kita panen delapan kolam saja. Masing-masing kolam luasnya sekitar seribu meter persegi. Delapan kolam berarti sekitar delapan ribu meter persegi. Hasil panennya sekitar 20 ton udang vaname," kata Syahrial Ridho, Pengusaha Tambak Udang ditemui di tambak udangnya di sekitar tepi Pantai Kuala Mapur Riausilip Bangka, Minggu (16/8/2020) petang.

Syahrial sengaja panen pada usia 93 hari karena berbagai pertimbangan. Alasan pertama untuk menekan biaya produksi atau operasional. Ukuran yang dipanen pun size 50, atau 50 ekor dalam 1 kg. "Udang vaname size 50 umur 93 hari, bobot dan ukurannya masih bisa diperbesar, namun tentunya biaya produksi juga meningkat. Makanya kita memilih panen pada usia 93 hari," kata Syahrial yang juga merupakan anggota Aliansi Petani Tambak Indonesia Nusantara (APTIN) Propinsi Bangka Belitung (Babel).

Mengenai potensi budidaya udang di daerah ini menurutnya, tak perlu diragukan lagi. Oleh karenanya, tambak diharapkan menjadi sektor unggulan di kemudian hari. Apalagi permintaan konsumen, khusunya ekspor udang ke.luar negeri kian meningkat, khususnya China dan Eropa. "Mengenai harga relatif, mengikuti kurs dollar. Yang jelas pangsa pasar terbesarnya China dan juga Eropa," kata Syahrial enggan menyebutkan nominal keuntungan yang didapatkan dalam sekali panen.

Karena itu pula, petani tambak kelahiran Pangkalpinang, 25 Juni 1967 jebolan magister hukum Universitas Trisakti Jakarta itu yakin usaha tambak udang di Pulau Bangka cukup menjanjikan. Terlebih usaha ini sebagai langkah membuka lapangan kerja, khususnya bagi warga lokal.

Saat ditanya kumungkknan usaha tambak udang dikolaborasikan pada sektor pariwisata? Pria yang juga punya panggilan akrab, Ucok itu memastikan, kolaborasi yang dimaksud sudah ia pikirkan. Namun katanya, jika ingin mengkombinasikan sebuah tambak udang pada sekotor pariwisata, sterilissi kolam harus diutamakan.

"Bisa di kolaborasikan dengan sektor wisata. Misal orang (wisatawan) datang, tangkap udang sendiri, goreng atau bakar udang sendiri. Tapi kita harus pilah, karena sterilisasi tambak harus tetap dijaga, tidak boleh terlalu banyak orang. Maka harus dipisahkan antara kolam budidaya profesional dengan kolam pariwisata, harus ada kolam yang kita korbankan," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Tambak (Katam), Andry kepada Bangka Pos, Minggu (16/8/2020) petang menjelaskan seputar teknis budidaya udang. Setelah tambak terbentuk, kemudian diisi air laut dan dibiarkan beberapa waktu. "Kemudian air kita permentasi, paling kambat 14 hari kemudian baru kita masukan benur (benih atau bibit). Dalam Satu kolam sekitar 130 ribu benur atau satu juta benur untuk delapan kolam," kata Andry melengkapi keterangan Syahrial. 58

Setelah memasuki usia 70 hari, dilakukan langkah seleksi untuk mengurangi kepadatan atau populasi udang agar tak terjadi kanibalisme. "Maka kita lakukan panen pasca pada usia 70 hari untuk menghindari kepadatan atau kanibalisme. Kemudian setelah itu sepuluh hari kemudian panen lagi. Ketiganya (usian 93 hari) baru kita panen total," tambah Andry.

Sementara itu Syahrial tak hanya bicara soal potensi tambak di daerah, namun ada hal yang harus diperhatikan, khususnya bagi calon investor tambak yang akan memulai usaha.
"Makanya beberapa waktu lalu dalam rapat koordinasi anggota dan Pengurus APTIN Babel, saya singgung terkait masalah perijinan tambak udang di Bangka Belitung akibat tidak sinkronnya kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah," katanya.

Diakuinya pemerintah sangat mendukung investasi tambak udang sebagai satu di antara sumber devisa negara. "Tapi kenyataan di lapangan terbentur karena sebagian besar lahan pesisir pantai di Pulau Bangka berstatus IUP atau ijin usaha pertambangan, baik timah maupun mineral kwarsa," kata Syahrial menyebut kendala akan muncul saat petani tambak akan melengkapi ijin.

Tak hanya itu, status lahan, yang didominasi oleh kawasan hutan lindung pantai (HLP) menjadikan rencana investasi menjadi mandul.
Padahal investor ingin berinvestasi secara legal atau memiliki ijin resmi. "Tapi kadang teebentur status hutan lindung menjadi kendala. Imbasnya muncul persepsi pemerintah daerah terkesan mempersulit perijunan tambak. Tumpang tindih status lahan juga menjadi penyebab kendala perijinan tambak udang," kata Syahrial, berharap ada upaya permohonan dalam bentuk gugatan hukum agar status kawasan atau IUP bisa dialihkan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai lokasi tambak udang.

"Saya berharap permasalahan tumpang tindih peruntukan lahan dapat diselesaikan pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah sehingga memudahkan investor berinvestasi tambak udang di Bangka guna mendukung penerimaan asli daerah dan penyerapan tenaga kerja di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung," harap pengacara yang juga berprofesi sebagai kurator itu bergitu optimis.

(Bangkapos.com/ferylaskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: Tomi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved