Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Kedai Kopi Menjamur Buat Persaingan Jadi Ketat, Ini Tips dari Pengamat Ekonomi Agar Tetap Eksis

Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Bisnis dan Manajemen STIE Pertiba Pangkalpinang, Suhardi mengatakan seiring modernisasi zaman

Bangkapos.com / Fitriadi
Kopi hitam 

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Bisnis dan Manajemen STIE Pertiba Pangkalpinang, Suhardi mengatakan seiring modernisasi zaman, warung kopi (warkop) tradisional berevolusi menjadi warkop-warkop kekinian yang dikenal dengan kafe.

"Produk yang ditawarkan pun beragam tidak hanya sekedar segelas kopi hitam saja, namun muncul racikan kopi kekinian sebagai hasil kreasi imajinatif para barista, hingga ada menu lainnya membuat betah berlama-lama melakukan berbagai aktivitas," ungkap Suhardi, Rabu (19/8/2020).

Diakuinya, semakin menjamurnya bisnis atau usaha kafe menjual kopi yang berdiri dalam beberapa waktu terakhir tentu membuat peta persaingan dalam bisnis ini sangat ketat.

"Hampir di setiap sudut kota bahkan di pinggiran gang sempit tersedia kedai-kedai mulai dari yang berukuran besar sampai ukuran minimalis hadir memberikan layanan bagi penikmat Kopi,"

"Hal ini semakin menumbuhkan keyakinan tak terbantahkan, bahwa peluang berbisnis di dunia kuliner termasuk kafe seakan tidak pernah mati dan akan terus berkembang sebagai bisnis yang menjanjikan," lanjut Suhardi.

Ia menambahkan menariknya meminum kopi tidak hanya disukai kalangan tua, namun seakan menjadi trend bagi kawula muda, maka tidaklah mengherankan bisnis kafe yang menjamur ini juga telah memunculkan pelanggan yang tersegmentasi pada kalangan anak muda.

"Tidaklah berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat saat ini, secara data dari Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) bahwa konsumsi kopi orang Indonesia saat ini sekitar 1,4 kilo kopi per kapita per tahun, sementara orang Singapura 4 kilo per kapita per tahun, dan orang Malaysia 5 kilo per kapita per tahun," jelas Suhardi.

Menurutnya, melihat perkembangan tingkat konsumsi tersebut dan maraknya bisnis kafe yang berkembang, sangat jelas akan memberikan sisi positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya dari sisi konsumsi, penciptaan lapangan kerja, penerimaan pajak, maupun munculnya entrepreneur-entrepreneur baru.

"Apalagi perlu dicatat bahwa bisnis usaha kopi ini tidak tidak memerlukan modal usaha yang besar, namun margin keuntungan yang lumayan menjanjikan, dan tentu optimisme tingkat konsumsi kopi penduduk per kapita juga terus mengalami peningkatan," sebutnya.

Namun, kemunculan kafe yang menawarkan konsep kekinian membuat desakan bagi pengelola warkop-warkop tradisional.

Halaman
1234
Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved