Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Sidang Dugaan Tindak Pidana Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Marjuki Dituntut 7 Bulan Penjara

Penangkapan bermula dari tertangkapnya rekan terdakwa Marjuki, yakni Rahmat.

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: suhendri
Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy
Suasana sidang dengan terdakwa Marjuki di Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Marjuki dengan hukuman tujuh bulan penjara dan denda Rp 2 juta subsider dua bulan kurungan atas dugaan tindak pidana pertambangan mineral dan batu bara.

Tuntutan tersebut disampaikan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang, Rabu (26/8/2020).

"Menyatakan terdakwa telah sah dan meyakinkan melakukan Pasal 161 Undang-Undang RI Nomor 04 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana," kata JPU Hidajaty.

Sebelumnya, Marjuki bersama rekannya ditangkap anggota Polda Kepulauan Bangka Belitung usai melakukan pembelian pasir timah di aliran sungai Celau, Kabupaten Bangka Tengah, Minggu (8/12/2019).

Penangkapan bermula dari tertangkapnya rekan terdakwa Marjuki, yakni Rahmat.

"Kami melakukan penangkapan di pinggir sungai. Saat itu, kami melakukan Operasi PETI. Lalu ada informasi kegiatan jual beli timah, lalu saat kami datangi memang ada dan Rahmat ini ada di sana," kata saksi bernama Sigit yang merupakan anggota Polda Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu, saksi juga menjelaskan peran dari kedua terdakwa dalam melakukan aksinya membeli pasir timah tersebut.

"Saat itu, kami interogasi Rahmat, dia jual ke Marjuki. Lalu kami datangi ke rumah Marjuki dan ada juga timah di rumahnya. Kalau untuk modal Rahmat membeli pasir timah, modalnya itu dari Marjuki," tuturnya.

Jaksa penuntut umum juga menghadirkan saksi lain yakni Abay, yang ikut bersama terdakwa Rahmat untuk membeli pasir timah dari para pelaku tambang inkonvensional (TI).

"Waktu ditangkap saya sama Rahmat. Kalau saya ini penimbang timah dan saya kerja sama Rahmat. Rahmat ini beli sama masyarakat timah itu, kalau upah dapat Rp 50 ribu sehari. Kalau Rahmat ini beli timah uangnya dapat dari Marjuki, kami kalau mau beli pasir timah itu ya menginap nunggu di pinggiran sungai," tutur Abay.

Usai mendengarkan tuntutan JPU, majelis hakim yang dipimpin Corry Octarina menutup sidang, dan akan melanjutkannya pada Senin (31/8/2020) dengan agenda putusan. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved