Breaking News:

Berita Sungailiat

96 Spesies Anggrek Dipelihara di Kawasan Konservasi Biodiversity Sungai Upang

Sekitar 96 spesies (jenis) tanaman Anggrek ditanam dan dipelihara di Kawasan Konservasi Biodiversity Sungai Upang seluas sekitar 40 hektare

Penulis: edwardi | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Edwardi
Konservasi Anggrek di Sungai Upang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Sekitar 96 spesies (jenis) tanaman Anggrek ditanam dan dipelihara di Kawasan Konservasi Biodiversity Sungai Upang seluas sekitar 40 hektare di Desa Tanah Bawah Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka oleh para pegiat lingkungan anggota Bangka Flora Society (BFS), Sahabat Alam Sungai Upang, Kelompok Nelayan Ikan Air Tawar dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Upang.

"Ada banyak jenis tanaman Anggrek khas Bangka Belitung yang kita tanam dan rawat disini sekitar 96 jenis, seperti anggrek bulan, anggrek pensil, anggrek tebu atau anggrek macan, arasmis dan lain-lainnya. Untuk anggrek pensil rencananya akan dijadikan motif baju atau kain cual," jelas Tulistianto, pendiri Bangka Flora Society kepada Bangkapos.com, Sabtu (05/09/2020) di Kawasan Sungai Upang.

Diungkapkannya 96 jenis anggrek ini sudah berhasil diidentifikasi jenisnya dan masih ada sekitar 17 jenis anggrek lagi yang belum berhasil diidentifikasi bersama tim LIPI Jakarta.

"Jenis anggrek di Pulau Bangka ini dipengaruhi peralihan antara anggrek di Pulau Sumatera dan Kalimantan, sehingga faktor cuaca dan pencahayaan itu mempengaruhi warna, ukuran besar bunga dan kekekaran batang. Kegiatan konservasi anggrek di kawasan ini sudah berjalan sekitar 3 tahun lalu," kataTulis, sapaan akrabnya.

Diungkapkan kegiatan konservasi mendapatkan dukungan penuh dan support dari pemerintah daerah, baik Pemprov Babel, Pemkab Bangka, Pemdes Tanah Bawah dan BUMN Peduli yakni PLN Peduli.

"Sebenarnya kegiatan konservasi disini bukan hanya untuk tanaman anggrek saja, tetapi ini merupakan upaya pelestarian kawasan baik ekosistem darat maupun sungai, kita harapkan ke depan bisa menjadi pusat riset atau penelitian pendidikan biodiversity atau keragaman hayati flora dan faunanya baik di ekosistem darat dan sungainya," jelas Tulis.

Menurutnya, untuk jenis-jenis ikan air payau yang hidup di Sungai Upang yang menjadi ikon khasnya yakni Ikan Tapah, juga ada ikan Baung/Baong, ikan Toman dan lainnya.

"Memang ada kendala tahun 2017 dan 2019 lalu pernah terjadi kebakaran hutan di kawasan ini, namun beruntung berhasil dipadamkan teman-teman pecinta lingkungan sehingga tidak habis terbakar karena itulah saat ini kita terus berbenah dan menjadi kawasan ini agar jangan sampai terjadi lagi kebakaran hutan," harap Tulis.

Diungkapkannya, mantan Menteri Lingkungan Hidup RI Sony Kerap juga sudah pernah mengunjungi kawasan Sungai Upang ini, Gubernur Babel Erzaldi dan Bupati Bangka Mulkan.

"Sungai Upang ini merupakan anak sungai dari aliran hulu Sungai Jeruk Desa Labu yang berhilir hingga ke sungai di Desa Kota Waringin dan menurut teman-teman BP DAS aliran Sungai Upang ini merupakan aliran sungai yang masih baik, terjaga dan masih alami," ungkap Tulis, suami Dian Anggraini yang juga dikenal sebagai pegiat lingkungan hidup di Kabupaten Bangka.

Baleho evakuasi ikan pesut di Sungai Upang.
Baleho evakuasi ikan pesut di Sungai Upang. (Bangkapos.com/Edwardi)
Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved