Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Seseorang Candu Miras Harus Dihindari, Ini Penjelasan Psikolog Terkait Faktor Penyebabnya

Siska Dwi Paramita mengatakan adiksi atau candu pada minuman keras (miras) menjadi hal yang aneh.

Penulis: Sela Agustika | Editor: Rusaidah
IST/Siska
Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita mengatakan adiksi atau candu pada minuman keras (miras) menjadi hal yang aneh.

Kebiasaan yang berujung dengan kecanduan ini merupakan hal negatif dan harus dihindari.

Dia mengungkapkan berbagai penyebab seseorang mengalami adiksi atau candu miras diantaranya, yaitu faktor psikologis, sosial dan genetik.

Menurutnya faktor psikologis ini terjadi saat seseorang mengalami tekanan dalam hidup atau stres sehingga berakhir dengan miras sebagai bentuk agar merasa lebih tenang, karena terdapat sensasi memabukkan dan merasa bahwa beban pikiran hilang.

"Padahal ini adalah efek dari hilangnya kesadaran saat meminum-minuman beralkohol," ucap Siska.

Sedangkan faktor sosial terjadi saat seseorang mendapat dorongan dari orang lain.

"Terkadang faktor sosial ini sering dialami oleh para remaja yang ingin mencoba hal baru atau demi kesetiakawanan," ujar Siska.

Sementara itu, faktor genetik ini terjadi jika seseorang berada didalam keluarga pecandu yang kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama, meski memang tidak semua yang melakukam hal tersebut.

Dia menjelaskan dampak bahaya alkohol pada kesehatan mental diantaranya dapat memicu terjadinya perilaku agresif.

"Inilah kenapa seseorang bisa berbuat kejahatan saat berada dibawah pengaruh alkohol, seperti mudah marah, merusak bagian otak yang berdampak pada mudah lupa akan sesuatu hal, dan sulit fokus," kata Siska, Senin (7/9/2020).

Lebih lanjut, mengatasi seseorang yang mengalami kecanduan miras harus diawali dengan niat dan tekad yang kuat dari dalam diri sendiri.

Selain itu, dia menyarankan untuk menghindari lingkungan yang akan memberikan efek negatif, dan mencari kesibukan yang positif.

"Jika sudah candu tentu tidak mudah untuk lepas dari hal ini, maka perlu dukungan dari keluarga terdekat dan jika diperlukan maka minta bantuan kepada tenaga ahli seperti psikolog untuk membantu lepas dari candu tersebut," tutur Siska.

(*)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved