Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Cerita Asal Mula Kopi Masuk ke Bangka: Dahulu Ditanam Khusus untuk Konsumsi Lokal Saja

Pemerintah Hindia Belanda pun menyarankan silakan kopi ditanam di Pulau Bangka khusus untuk dikonsumsi lokal saja.

bangka pos/dok
Seorang petani di Desa Petaling Banjar, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, menunjukkan tanaman kopinya, beberapa waktu lalu. 

BEBERAPA tahun belakangan, tren minum kopi di Kota Pangkalpinang sedang berkembang pesat.

Kegiatan minum kopi pun saat ini telah berkembang menjadi gaya hidup anak muda.

Tak hanya penghilang rasa kantuk, kopi juga dimanfaatkan sebagai sarana bercengkerama dan teman ngobrol dengan kawan, hingga menemani saat bekerja.

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian mengatakan, berdasarkan laporan residen Belanda Algemeen Verslag der Resident Banka 1851, telah dilakukan penelitian terhadap tanaman kopi di Pulau Bangka dan hasil penelitian menyatakan, bahwa kopi tumbuh subur di Pulau Bangka dan produktif menghasilkan buah.

Akan tetapi, kualitas kopi yang dihasilkan masih kalah dengan kualitas kopi dari daerah lainnya.

Pemerintah Hindia Belanda pun menyarankan silakan kopi ditanam di Pulau Bangka khusus untuk dikonsumsi lokal saja.

"Kebiasaan minum kopi juga berlaku bagi pekerja tambang (parit) timah orang Tionghoa di Pulau Bangka. Dikenal istilah kopi pan chok yaitu minum kopi yang dilakukan saat istirahat setelah bekerja setengah hari di lokasi tambang (parit timah) atau telah bekerja setengah kung atau kong," kata Elvian kepada Bangkapos.com, Senin (14/9/2020).

Ia menambahkan, lantaran waktu minum kopi terbatas oleh lamanya waktu istirahat karena pekerja harus kembali mengerjakan satu hari atau satu kung/kong, maka kopi biasanya dibagi secangkir untuk diminum berdua.

"Istilah kopi pan chok, lama kelamaan sering disebut kopi pancung," ucapnya.

Menurut Elvian, masyarakat Bangka dengan budaya yang berbasis darat (land base culture) dan bahari (sea base culture) sangat terbuka terhadap pengaruh luar bahkan gastvrijheid asal tidak mengganggu dan merusak tatanan budayanya.

Halaman
12
Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved