Breaking News:

Advertorial

Gubernur Erzaldi Beri Motivasi untuk Kembangkan Komoditi Pendukung

Lada, sawit, karet sebagai komoditi utama ini membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun untuk hasil panen pertama

Diskominfo Babel
Erzaldi Rosman saat bersama para petani/peternak di Desa Katis, Bangka Tengah, Senin (14/9) 

BANGKAPOS.COM - Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman beri motivasi terkait pengembangan perkebunan dan peternakan di Babel. Jahe merah dan porang (umbi tunggal) menjadi target pertanian Babel ke depan sebagai komoditi pendukung selain komoditi utama seperti lada, sawit, dan karet.

Jahe merah dengan waktu tanam kurang dari satu tahun dianggap mampu menjadi komoditi pendukung di antara komoditi utama yang membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk masuk masa panen pertama. Sedangkan jahe merah, hanya membutuhkan waktu kurang dari satu tahun dan begitu diminati di pasar lokal dan ekspor.

Selain jahe merah, tanaman porang juga tak kalah ditunggu oleh pasar ekspor. Tidak hanya lahan tidur kering yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman ini, penanamannya dapat dilakukan di sela-sela tanaman komoditi utama Babel.

Gubernur Erzaldi Rosman, saat menyampaikan bantuan petani/peternak di Desa Katis, Bangka Tengah, Senin (14/9/20) mulai menanamkan semangat kepada para petani Babel untuk mengembangkan dua komoditi ini dan berharap petani Babel mendapat hasil tambahan.

Menurut Gubernur Erzaldi, jika sebelumnya para petani hanya mendapat hasil tahunan dari komoditi pokok, dengan pengaturan waktu tanam yang tepat, akan mendapat tambahan penghasilan per tiga bulan atau solusi tambahan hasil per enam bulan.

Sehingga, selain hasil tahunan yang dapat mereka tabung, ada juga hasil harian yang didapat dan digunakan untuk operasional kehidupan sehari-hari.

“Tentunya dengan bimbingan PPL dan manajemen tanam yang tepat,” ungkapnya.

“Jangan hanya mengandalkan satu komoditi saja. Lada, sawit, karet sebagai komoditi utama ini membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun untuk hasil panen pertama,” ujarnya.

Komoditi ini miliki tingkat pembeli tinggi karena selain menjadi olahan pangan, juga menjadi olahan kosmetik di beberapa negara berkembang.

Per kelompok dipersilakan saling memberi informasi, jika banyak peminat sebelum dipelajari dan dikembangkan pemerintah di sektor pertanian, maka dapat mendata untuk memetakan tingkat produksi.

Halaman
12
Penulis: Iklan Bangkapos
Editor: khamelia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved