Breaking News:

Memperbaiki Persepsi Rencana Pengiriman Pekerja Migran di Tengah Pandemi Covid-19

Migrasi yang awalnya bersifat alamiah berubah seiring perkembangan aspek politik dan budaya.

Dokumen Pribadi
Zamal Nasution, mahasiswa doktoral Universitas Mahidol Thailand 

Masyarakat akademis pun tergiring dari opini yang terbentuk sehingga masih memandang isu para pekerja migran sebagai isu anak bangsa yang tertindas oleh perbudakan modern.

Di sisi lain, studi dan liputan berita tentang manfaat remitan yang terkirim ke Indonesia masih sangat sedikit karena para peneliti dan jurnalis takluk atas kemauan publik yang akan lebih empatik terhadap isu eksploitasi buruh migran, kesedihan dan tragedi para migran.

Rencana Pemberangkatan Pekerja Migran adalah Pilihan Rasional Terkait dengan pro dan kontra rencana pengiriman 88.793 pekerja migran ke negara penempatan juga tidak terlepas dari bias perspektif para pengamat dan stakeholder migrasi di Indonesia.

Dikarenakan opini yang bekembang di masyarakat lebih dominan tentang sisi negatif migrasi bagi pekerja non-terampil di tengah pandemik, maka penolakannya terasa lebih kuat.

Kesenjangan strategi penanganan pandemik di tiap negara tidak seharusnya mengeneralisir pandangan yang
menganggap kesehatan calon para pekerja migran akan terancam di negara penempatan.

Selanjutnya, logika yang dipertentangkan antara kepentingan ekonomi devisa versus kesehatan dan keselamatan di luar negeri.

Tentunya, dalam situasi pandemik sekarang, semua negara bersikap serius menekan angka persebaran
korban Covid-19. Sebagai contoh, rumah tangga di Singapura yang bergantung pada pekerja domestik asal Indonesia berhasil membuat Kementerian Ketenagakerjaan Singapura membuka opsi masih menerima pekerja migran baru dari negara-negara
pengirim, termasuk Indonesia.

Penanganan yang relatif sama di tiap negara yaitu kewajiban pekerja asing untuk menjalani karantina dan tes swab PCR sebelum
diperbolehkan bekerja kembali.

Biaya karantina selama 14 hari dan tes swab umumnya ditanggung oleh para majikan, sehingga para pekerja merasa ada
kepastian sebelum kembali ke Singapura.

Maka, tuntutan para pengamat seharusnya lebih fokus pada mekanisme penanganan calon pekerja migran oleh
negara penempatan.

Kembali pada faktor pendorong individu untuk bermigrasi dan situasi di mana pandemik belum dapat dipastikan berakhir waktunya, maka keberangkatan calon pekerja migran merupakan pilihan logis.

Argumentasinya yaitu, apabila mekanisme penangangan pandemik di negara penempatan dapat diterima secara rasional, maka
keberangkatan para calon pekerja migran merupakan pertimbangan logis yang juga rasional.

Sudah sewajarnya, para pengamat melihat rencana pengiriman ini dari perspektif kepentingan para calon pekerja migran. Justru, di tengah kehati-hatian negara penempatan dalam menangani potensi penambahan korban baru, maka prioritas dikenakan pada para migran yang baru datang.

Sehingga, pekerja migran Indonesia yang telah lolos seleksi penerimaan di negara penempatan akan mendapatkan prioritas penanganan.

Lebih dari itu, di tengah situasi ketidakpastian peluang pekerjaan di manapun, rencana keberangkatan 88.793 calon pekerja migran ini menunjukkan keunggulan diplomasi Indonesia terhadap negara mitra.

Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved