Rabu, 29 April 2026

Gubernur Erzaldi dan Herman Deru Sepakati Bahtera Sriwijaya, Begini Kata Pengamat

Tos ala Erzaldi dan Herman itu, sebagai tanda kesepakatan monumental pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya

Editor: Alza Munzi
Darwinsyah/BangkaPos
Ilustrasi Jembatan Bahtera Sriwijaya yang menghubungkan Bangka dengan Sumsel 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepalan tangan kanan Gubernur Babel Erzaldi Rosman dan Gubernur Sumsel Herman Deru beradu di Kantor Gubernur Babel, Kamis (17/9).

Tos ala Erzaldi dan Herman itu, sebagai tanda kesepakatan monumental pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya antara Babel dan Sumsel.

Keduanya tampak semringah dan menyebutkan jembatan tersebut untuk kemajuan dua daerah.

"Ini langkah awal yang positif. Kita bicara soal hubungan dua daerah, silaturahmi semakin lengket dan perekonomian juga semakin maju," ungkap Erzaldi, Sabtu (19/9/2020).

Meski upaya ini masih panjang, Erzaldi optimistis Jembatan Bahtera Sriwijaya akan terealisasi dalam beberapa tahun ke depan.

Apalagi pemerintah pusat telah memberikan lampu hijau sehingga nantinya dana APBN triliunan siap dikucurkan.

"Rencana ini tidak mustahil, Babel akan terhubung dengan daratan Sumatera, luar biasa," katanya.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Noviar Ishak mengatakan Bahtera Sriwijaya mirip seperti Suramadu, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura (Suramadu).

"Secara struktur mungkin mirip, perbedaannya mungkin dari segi arsitektur. Bisa saja gaya melayu. Tentunya sesuai kesepakatan pusat, Bangka Belitung dan Sumatera Selatan," jelas Noviar Ishak.

Noviar menyebutkan biaya pembangunan jembatan sepanjang 13,5 Km diperkirakan Rp 15 triliun, yang membutuhkan waktu penyelesaian sampai lima tahun.

Dia mengatakan estimasi pembangunan jembatan pada 2023 nanti.

Mengenai maket gambar jembatan, Noviar baru bisa menyampaikan setelah detail engineering design (DED) atau desain teknis selesai.

"Kalau biaya pastinya, baru bisa dihitung setelah Feasibility Study (studi kelayakan) dan DED rampung. Nah, maket baru dibuat setelah DED," ungkapnya.

Noviar mengakui belum ada gambar atau animasi Jembatan Bahtera Sriwijaya tersebut.

"Belum bisa dibuat termasuk animasinya. Pemilihan dan bentuk struktur belum ada," ujar Noviar.

Menurutnya, pembahasan Jembatan Bahtera Sriwijaya sudah dilakukan sejak 2019.

Saat itu, Gubernur Babel, Gubernur Sumsel, dan Menteri Bappenas bertemu. Hanya saja, proyek tersebut belum masuk Program Strategis Nasional.

Noviar menjelaskan, titik yang disepakati yakni Desa Sebagin, Bangka Selatan ke Desa Tanjung Tapak Sumsel merupakan lokasi yang kerap dilalui masyarakat melalui transportasi laut.

"Daerah itu secara umum digunakan masyarakat untuk bertransportasi lewat laut, karena jaraknya pendek. Apabila tahapan FS pada Desember 2020 selesai, tahun depan masuk DED. Selesai pada 2023, bila uang ada, langsung jalan. Ibaratnya, kita memberikan ke orangtua, lalu ia mengatakan silakan kerjakan," jelasnya.

Sangat Memungkinkan

Dosen Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung Revy Safitri menyebutkan sangat memungkinkan dibangun jembatan dari Bangka Selatan ke Desa Tanjung Tapak, Sumsel sepanjang 13,5 Km.

"Membangun jembatan sepanjang 13,5 Km dari segi konstruksi sangat memungkinkan. Namun, semakin panjang jembatan yang akan dibangun, berbanding lurus pula dengan biaya yang dikeluarkan," ujar Revy.

Dia mengatakan Bahtera Sriwijaya tentunya menelan dana besar, yang secara teknis dapat berbentuk jembatan lengkung, gantung, kabel, rangka, dan lain-lain.

"Perlu kajian terlebih dahulu untuk menentukan bentuk suatu jembatan. Karena ada banyak faktor yang mempengaruhi bentuk suatu jembatan, termasuk dana yang dibutuhkan. Semakin kompleks bentuk suatu jembatan, maka semakin besar dana yang dibutuhkan," jelas Revy.

Ia menambahkan mungkin saja secara struktur Jembatan Bahtera Sriwijaya memiliki bentuk yang mirip dengan Jembatan Suramadu.

"Secara geografis, pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya dilakukan untuk menghubungkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera melalui Sumatera Selatan. Pembangunan infrastruktur memberikan dampak jangka panjang, sama halnya dengan pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya," katanya.

Dampak jangka panjang dalam artian dirasakan tidak serta merta langsung ketika jembatan selesai dibangun.

Menurutnya, pembangunan jembatan ini tentunya memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat Bangka Belitung.

"Dampak positif yang terjadi antara lain membuka akses yang lebih besar dari dan menuju Pulau Bangka melalui jalur darat. Selama ini kebutuhan pokok di Pulau Bangka didatangkan dari luar karena keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat secara mandiri. Barang yang didatangkan sebagian melalui jalur laut menggunakan moda transportasi kapal," ujar Revy.

Ada banyak kelemahan ketika barang diangkut menggunakan kapal, karena pergerakan kapal dipengaruhi faktor cuaca, pasang surut air laut, dan juga waktu berlayar yang memakan waktu cukup lama, belum lagi kebutuhan pokok yang mudah rusak selama di perjalanan.

Kelemahan pengangkutan dengan moda kapal membuat harga kebutuhan pokok di Bangka cukup tinggi.

"Pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya dapat mempermudah pergerakan barang ini sehingga dapat menurunkan harga kebutuhan pokok tersebut. Dampak positif yang bisa dirasakan tentunya dari segi ekonomi," sebut Revy.

Sedangkan dampak negatif muncul apabila tidak dilakukan penanganan yang tepat.

Akses masuk ke Babel yang mudah, maka Pulau Bangka akan semakin mudah dijangkau sehingga menimbulkan banyak ekses ke depannya.

"Harapannya dampak positif yang diterima harus jauh lebih besar dan dampak negatif yang muncul harus diminimalkan. Masyarakat Bangka Belitung harus bisa merasakan dampak positif yang besar dan jangka panjang, mengingat nilai investasi dalam pembangunan yang cukup besar. Selanjutnya, dampak negatif yang mungkin terjadi dapat dihindari dengan adanya perencanaan yang matang dalam pembangunan ini," tutur Revy.

Babel Ambil Peluang

Pengamat Ekonomi sekaligus STIE Pertiba Pangkalpinang Suhardi menjelaskan konektivitas antardaerah merupakan tantangan bagi perekonomian Indonesia.

"Konektivitas menjadi tantangan terbesar perekonomian Indonesia dari sisi domestik. Maka penguatan infrastruktur konektivitas perlu terus dilakukan terutama untuk membangun akses yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Terjawabnya konektivitas setidaknya dapat menurunkan biaya logistik sehingga meningkatkan kemudahan usaha dan daya saing perekonomian secara keseluruhan," ujar Suhardi.

Kehadiran jembatan tersebut, tentu menimbulkan dampak positif maupun negatif serta adanya berbagai ekses sosial yang akan menyertainya.

"Namun sisi positifnya, keberadaan jembatan penghubung ini dapat membawa berkah menguntungkan terhadap perekonomian, terbukanya wilayah baik Babel maupun Sumsel. Dapat dijadikan peluang para investor untuk berinvestasi pada sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, jasa, migas, pariwisata, dan sebagainya," kata Suhardi.

Keuntungan ekonomi ini tentu akan dinikmati Sumsel lebih besar, mengingat porsi ekonomi serta kesiapan Sumsel lebih baik ketimbang Bangka Belitung.

Suhardi menyebutkan, Sumsel telah menyiapkan tol trans Sumatera penghubung Palembang-Kayu Agung-Lampung.

Sehingga dengan kehadiran jembatan ini tentu akan menjadi multiplier effect (efek berganda) dan katalisator (mempercepat), yang dapat mempercepat dorongan laju arus orang, barang maupun jasa yang lebih baik dan cepat lagi diwilayah ini.

"Namun bukan berarti Babel tidak dapat memperoleh manfaat lebih dari jembatan penghubung tersebut. Kehadiran jembatan ini memberi berkah efisiensi dan efektivitas arus orang, barang dan jasa menjadi lebih baik. Arus masuk barang-barang kebutuhan tidak perlu tergantung pada musim, sekaligus memberikan peluang pada usaha baru untuk menjadi pemain dalam perdagangan barang maupun jasa," jelas Suhardi.

Terlebih, menurutnya komoditas pertanian, perkebunan, dan kelautan perikanan dan sektor pariwisata Babel memiliki peluang besar untuk tumbuh dan berkembang dan berkontribusi lebih dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi.

Bahkan sektor usaha, investor dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota telah menyiapkan atau tidak, imbas positif ekonomi dari kehadiran jembatan penghubung ini.

"Sebenarnya saya agak kurang sepakat jika nama yang disematkan pada jembatan ini adalah "Bahtera Sriwijaya", sebab menurut saya ini agak mengecilkan kesetaraan serta posisi tawar Bangka Belitung secara ekonomi dan Pulau Sumatera. Lebih mengesankan bahwa jembatan penghubung ini menjadi sasaran antara Provinsi Sumsel dalam mendorong perekonomiannya," sebut Suhardi.

Padahal, keberadaan jembatan penghubung ini berperan strategis tidak hanya Babel maupun Sumsel namun juga Sumatera.

Karena antar Provinsi se-Sumatera dapat mengambil manfaat sosial maupun ekonomi dari adanya jembatan ini, khususnya perdagangan antarpulau dan antarwilayah.

Berbagai produk dan jasa dapat lebih efketif dan efisien karena teratasinya kendala konektivitas antar wilayah dan antar pulau.

"Selain itu, dengan mengoptimalkan sektor pertanian, perkebunan, kelautan perikanan serta pariwisata tentu Bangka Belitung dapat menikmati laju pertumbuhan ekonomi dari keberadaan jembatan penghubung ini," bebernya.

Ia menambahkan walaupun berdasarkan data jumlah penduduk tahun 2019, penduduk Sumsel sebanyak 8,497 juta jiwa dan menempati urutan kedua penduduk terbanyak se-Sumatera yang berjumlah sekitar 58,46 juta jiwa.

Sementara Babel berada pada urutan penduduk terkecil se-Sumatera dengan jumlah penduduk sebanyak 1,45 Juta jiwa.

Namun, penting sekali untuk menyiapkan infrastruktur ekonomi serta masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton atau pemain kecil dalam pembagian ekonomi antara Babel, Sumsel dan Sumatera.

Pembangunan ini merupakan suatu keniscayaan dari kemajuan peradaban, pemangku kepentingan di Babel harus menyiapkan diri, pandai mengambil peluang, kreatif serta inovatif, dan menghilangkan kesan negatif serta apriori dari kehadiran jembatan penghubung ini.

"Jika membandingkan dari sisi jumlah penduduk, Singapura lebih sedikit dari Indonesia dan Malaysia, namun dengan berbagai daya jelajah, kreativitas, inovatif, serta jiwa entrepreneur penduduknya mereka dapat mengambil porsi ekonomi lebih besar dan lebih kaya dibandingkan negara tetangganya," tutur Suhardi. 

Pemda Harus Libatkan Masyarakat

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bangka Belitung menyoroti esensi dan keterdesakan yang diambil oleh Gubernur Babel dan Gubernur Sumsel.

Menurut Ketua Umum HMI Cabang Bangka Belitung Rizqi Khulafahu Shidi, keputusan tersebut terlalu terburu-buru, sementara hasil studi kelayakannya tidak transparan dan tidak jelas.

"Informasi ini kita terima sewaktu mengadakan webinar beberapa waktu yang lalu. Kita bukan persoalan menolak atau menerima pembangunan jembatan ini, tetapi terlalu tergesa-gesa dan arogan apabila gubernur menetapkan pembangunan ini. Tidak memikirkan jangka panjang di tengah masyarakat Babel," ungkap Rizqi Jumat pekan lalu.

Dia mengungkapkan dibangunnya Jembatan Bahtera Sriwijaya bukan berarti dapat meningkatkam ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"Keuntungan hanya satu, hanya muncul jalan darat saja. Persoalan ekonomi meningkat bukan hanya jalan darat saja, tetapi tergantung kepala daerahnya seperti apa mengelolanya. Bukannya pelabuhan kita sekarang saja masih belum terkelola, apalagi adanya jembatan ini," sebut Rizqi.

Dia menyarankan pemerintah daerah untuk melibatkan berbagai pihak terlebih dahulu untuk memberi masukan terkait pembangunan jembatan seperti pemuda, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, dan mahasiswa.

"Jangan hanya memikirkan beberapa kelompok, kasihan masyarakat Babel yang tidak dilibatkan dalam penentuan pelaksanaan jembatan ini. Padahal, semua kebijakan itu akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat kita di Babel ini," tegasnya. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved