Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Ada Pelajar SD Sampai Kecanduan Lem, BNNK Bangka Berharap Ada Pengawasan Penjualan Lem

Kepala BNNK Bangka, Eka Agustina, menyoroti penyalagunaan lem berbahan inhalan yang marak terjadi di kalangan remaja.

Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy
Kepala BNNK Bangka, Eka Agustina saat berada di acara ruang tengah Bangka Pos, Selasa (22/09/2020). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bangka, Eka Agustina, menyoroti penyalagunaan lem berbahan inhalan yang marak terjadi di kalangan remaja.  

Eka Agustina membeber bahaya dari bahan perekat yang mengandung zat adiktif tersebut saat hadir sebagai nara sumber di Dialog Ruang Tengah Redaksi Bangka Pos, Selasa (22/09/2020).

"Kalau untuk pemula banyak menggunakan lem yang ada zat adiktif dan ini sangat berbahaya, karena penggunaan ini bukan digunakan sebagaimana mestinya," ujar Eka Agustina dalam bincang-bincang yang dipandu oleh Editor Online Bangka Pos, Edi Yusmanto.

"Kalau mereka yang kecanduan lem bisa sampai 30 orang, kalau melihat data setahun ini dan ini bisa kami rehabilitasi apalagi kalau sudah kecanduan."

"Untuk lem ini malah banyak yang di bawah umur, seperti anak SD juga ada," ujar Eka Agustina lagai.

Bahkan Eka Agustina pun sempat menceritakan pengalamannya mengenai adanya pelajar yang sudah kecanduan terhadap lem yang seharusnya digunakan untuk merekatkan dua bendatersebut.

"Ada 2018 di suatu wilayah ada guru yang ngelapor kalau ada siswa yang badannya dibalur pakai lem, saat itu kami sudah sarankan untuk datang ke klinik kami. Kami juga lihat perkembangan anak itu sekarang ini. Kami melakukan jemput bola juga, karena anak ini enggak melaporkan perkembangannya," tuturnya.

Dengan begitu banyak kasus penyalagunaan lem, kepala BNNK Bangka pun berharap pengawasan dalam jual beli lem yang ada kandungan inhalan tersebut harus lebih diperketat.

"Bagi Desa atau pemerintah harus lebih memperketat terhadap pembelian, dan ini harus dijadikan peraturan karena penjual juga harus tau kebutuhan dari pembeli itu untuk apa."

"Jangan untuk keuntungan semata, tapi harus ada kebaikannya. Pengawasan harus diperketat dan harus dikontrol, karena efeknya bisa gila bahkan sampai kematian," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: El Tjandring
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved