Berita Pangkalpinang
UN Bakal Diganti, Dinas Pendidikan Babel Mulai Sosialisasi Asesmen Kompetensi Minimum
Asesmen kompetensi minimum (AKM) bisa menjadi penilaian yang lebih komprehensif untuk mengukur kemampuan minimal siswa.
Penulis: Riki Pratama | Editor: suhendri
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ujian nasional (UN) akan diganti dengan asesmen kompetensi minimum (AKM) dan survei karakter di tahun 2021.
Asesmen kompetensi minimum (AKM) bisa menjadi penilaian yang lebih komprehensif untuk mengukur kemampuan minimal siswa.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Soleh.
"Nantinya, AKM akan berisi materi yang meliputi tes kemampuan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter," ujar Soleh kepada Bangkapos.com, Selasa (22/9/2020).
Dia menyebut, pada 2021 semua daerah di Indonesia akan melaksanakan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter menggantikan ujian nasional.
"Kami juga hari ini telah menyosialisasikannya ke sekolah-sekolah tentang AKM dan survei karakter karena ini rencana dan kebijakan pemerintah pusat yang tahun depan ujian nasional diganti AKM," katanya.
Menurut Soleh, kesiapan AKM harus disampaikan kepada semua guru.
Tujuannya agar para guru nanti bersiap melaksanakan kebijakan yang dibuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tersebut.
"Jadi kita harapkan pihak sekolah tidak ketinggalan dan intinya kita menyampaikan agar mereka bisa melaksanakan workshop kepada guru agar mengimplementasi siap untuk mengikutinya karena AKM ini lebih ke tes kemampuan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter," tutur Soleh.
Dalam pelaksanaan tes literasi, lanjut dia, mengajarkan bagaimana menganalisis mengenai bacaan.
Adapun numerasi, melihat kemampuan anak untuk menganalisis hitungan.
"Pembelajaran ini semuanya dilaksanakan di sekolah harus ada pendekatan, lebih cocok pendekatan berbasis STEAM adalah sebuah singkatan untuk sains (science), teknologi (technology), teknik (engineering), seni (art), dan matematika (mathematic)," ujar Soleh.
Ia menegaskan, guru harus memahami dan mengetahui hal tersebut.
Selanjutnya, dilakukan penilaian berbasis higher order of thinking skill (HOTS), kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
"Keterampilan berpikir tingkat tinggi ini ke arah analisis dan evaluasi," ucap Soleh. (Bangkapos.com/Riki Pratama)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kepala-dinas-pendidikan-babel-m-soleh-bangkaposcomriki-pratama.jpg)