Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Kecanduan Miras atau Napza Tak Bisa Langsung Sembuh, Perlu Tahapan Dimulai dari Niat Sendiri

Remaja yang sudah terbiasa dengan miras atau napza tidak bisa secara langsung dilakukan upaya penyembuhan, namun butuh tahapan-tahapan tertentu.

Penulis: Sela Agustika | Editor: Rusaidah
IST/Siska
Biro Psikologi Q-tha sekaligus Dosen Konseling Pendidikan Islam IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramitha 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita mengungkapkan usia remaja merupakan usia dimana mereka memiliki banyak keingintahuan yang besar dan tingkat penasaran yang tinggi sehingga membuat mereka ingin mencoba sesuatu hal yang baru.

"Hal inilah yang menyebabkan beberapa remaja akhirnya terjerumus ke hal-hal negatif dan tentunya ada peran lingkungan atau peran keluarga di dalamnya," ungkap Siska kepada bangkapos.com, Kamis (24/9/2020).

Menurutnya, di era saat ini kasus-kasus remaja dengan miras atau napza bukanlah hal yang aneh lagi, bahkan banyak sekali kasus-kasus tersebut ditemukan, baik di desa maupun di perkotaan.

Mengonsumsi miras yang dipadu dengan napza tentunya akan merusak jaringan otak dan akan berdampak buruk pada gangguan saraf mulai dari sensorik, motorik dan otonom.

Dikataka Siska, apabila seseorang merasa nyaman setelah menggunakan napza atau minum miras, maka otak akan mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan sehingga otak akan merekam kenikmatan tersebut.

"Saat tubuh membutuhkan rasa nyaman dan nikmat hal ini akan diulang kembali hingga menjadi kebiasaan. Jika tidak melakukan hal tersebut tentu seseorang ini akan merasa pusing, uring-uringan dan lainnya," sebut Siska.

Dia menuturkan remaja yang sudah terbiasa dengan miras atau napza tidak bisa secara langsung dilakukan upaya penyembuhan, namun butuh tahapan-tahapan tertentu yang dimulai dari niat atau keinginan sendiri.

"Artinya pengguna harus dengan sadar untuk mau meninggalkan hal-hal yang selama ini menjadi candu, tetapi tentunya hal ini tidak mudah karena akan memberikan efek yang kurang nyaman bagi tubuhnya," tutur Siska.

Selain itu, diakuinya peran dan dukungan dari orang terdekat seperti keluarga juga menjadi hal penting dalam upaya penyembuhan.

(*)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved