Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Dosen Sosiologi: Manusia Berbudaya itu Menghargai dan Menjaga Warisan Sejarah

Putra Pratama Saputra mengatakan satu diantara indikator seorang manusia yang berbudaya adalah menghargai warisan sejarah yang masih bertahan.

Istimewa/Putra Pratama Saputra
Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Putra Pratama Saputra. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Putra Pratama Saputra mengatakan satu diantara indikator seorang manusia yang berbudaya adalah menghargai warisan sejarah yang masih bertahan hingga sekarang.

"Warisan atau peninggalan sejarah memiliki arti penting sebagai bukti peristiwa bersejarah yang terjadi di masa lalu. Telah ada sejak dahulu (zaman Belanda) atau lebih dikenal dengan cagar budaya. Berupa bangunan dan benda-benda yang bernilai budaya tinggi dalam bentuk bangunan tua, monumen, museum, menara suar, benteng, prasasti, makam, situs, mitos, dan lain sebagainya. Bahkan, sejumlah bangunan dan benda-benda yang diwariskan masih berdiri kokoh dan berfungsi sangat baik," ujar Putra, Selasa (29/9/2020).

Dalam perjalanannya, banyak yang menjadikan warisan sejarah sebagai media dan sumber belajar untuk mengenal Indonesia, khususnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Mengutip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, cara untuk menghargai warisan sejarah, diantaranya memelihara peninggalan sejarah sebaik-baiknya, menjaga kebersihan dan keindahan, melestarikan benda sejarah tersebut agar tidak rusak, baik oleh faktor alam maupun buatan; tidak mencoret-coret benda peninggalan sejarah; turut menjaga kebersihan dan keutuhan; wajib menaati tata tertib yang ada dalam setiap tempat peninggalan sejarah; serta wajib menaati peraturan pemerintah dan tata tertib yang berlaku," jelas Putra.

Ia menyebutkan upaya perlindungan dan pengembangan dilakukan oleh pemerintah daerah, serta turut membantu pihak swasta dan masyarakat secara umum. Jangan sampai masyarakat lupa bahwa warisan memiliki nilai sejarah yang membanggakan.

"Hubungan sosial dan budaya antara etnis tionghoa maupun melayu tergolong harmonis. Seiring dengan perkembangannya, masing-masing etnis saling menghormati dalam mengekspresikan tradisi dan kebiasaannya," katanya.

Mempunyai kesempatan yang sama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Meskipun terdapat perbedaan pada gaya hidup dan cara pandang, masyarakat hidup rukun dan berpadu dalam menciptakan harmonisasi ditengah keberagaman etnis. Terutama dalam merawat dan menjaga warisan sejarah atau budaya.

Bisa saja hal tersebut yang sebenarnya mempererat hubungan etnis tionghoa dan melayu selama ini.

"Perlu adanya itikad kuat dari pemerintah daerah untuk dapat memanfaatkan dan memberdayakan warisan sejarah, serta dapat melibatkan pihak swasta melalui CSR (Corporate Social Responsibility) dalam pengelolaannya," kata Putra.

Apabila tidak dilakukan demikian, dikhawatirkan akan mengancam keberadaan warisan sejarah oleh pembangunan pesat di daerah tersebut.

"Dijaga kelestarian dan keindahannya untuk dapat diwariskan, baik bagi generasi saat ini maupun yang akan datang. Lebih lanjut, jika dikemas secara optimal, warisan sejarah sebagai cagar budaya dapat menjadi pilihan destinasi wisata andalan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," tutur Putra.

(*)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Rusaidah
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved