Breaking News:

Ingat Ari Askhara? Kini Mantan Dirut Garuda yang Selundupkan Brompton Itu Ditetapkan Jadi Tersangka

Ari Askhara lahir di Jakarta, 13 Oktober 1971. Memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Askhara Dandiputra dan pernah mengenyam pendidikan di UGM.

Editor: Dedy Qurniawan
(KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA)
Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara di Garuda Indonesia Training Center, Jakarta Barat, Rabu (23/1/2019). Kini ia telah ditetapkan jadi tersangka kasus penyelundupan onderdil Harley Davidson dan sepeda Brompton. 

Ari Askhara memiliki satu mobil merek Mitsubshi tipe Pajero Sport keluaran 2012 seharga Rp 325 juta.

Selain itu ia juga memiliki sedan Mazda 6 keluaran 2017 harga Rp 420 juta dan Minibus Lexus keluaran 2016 seharga Rp 652 juta.

Tercatat, total kekayaan Ari Askhara mencapai Rp 37,561 miliar.

Ari Askhara juga memiliki delapan tanah dan bangunan di Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Bali dengan total nilai Rp 23,275 miliar.

Ari Askhara pun tercatat punya harta bergerak lainnya senilai Rp95 juta, kas dan setara kas senilai Rp 10.441.339.665, serta harta lainnya senilai Rp 2,38 miliar.

Ari juga tercatat tidak memiliki hutang.

CELANA Dalam Bekas Terjual Rp115 Juta, Inilah Penyebabnya

Riwayat Karier

Assistant Vice President - Bank Mandiri (1994-2005) (6)

Vice President Deutsche Bank (2006-2008)

Director Barclays Investment Bank (2008-2009)

Director Standard Chartered Bank (2009-2011)

Finance Director PetroSand Indonesia Oil and Gas (2011-2013)

Head of Natural Resources Indonesia ANZ (2013-2014)

Chief Finance Office PT Pelabuhan Indonesia 3 (Juni 2014-Desember 2014)

CFO and Risk Director PT Garuda Indonesia (2014-2016)

Human Capital and Development Director PT Wijaya Karya (2016-2017)

Chief Executive Officer PT Pelabuhan Indonesia III (2017-2018)

Chief Executive Offier PT Garuda Indonesia (2018-2019). 

Dicopot Erick Thohir

Sebelumnya, Ari Askhara telah dicopot dari jabatannya sebagai Dirut Garuda oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Pencopotan itu buntut dari kasus penyelundupan Harley Davidson dan sepeda Brompton dalam pesawat baru Garuda Indonesia Airbus A330-900 Neo.

Atas kasus tersebut, Garuda Indonesia juga dihukum denda Rp 100 juta.

Garuda Indonesia dinilai melanggar kesesuaian terhadap flight approval yang tertuang dalam Peraturan Menteri (PM) nomor 78 Tahun 2017 tentang Pengenaan Sanksi Administratif Terhadap Pelanggaran Peraturan Perundangan di Bidang Penerbangan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat itu menyebut negara mengalami kerugian Rp 1,5 miliar atas kasus penyelundupan itu.

Sosok Kapolres Blitar yang Bikin Kasat Sabhara Tertekan dengan Makian Kasar Lalu Ajukan Pensiun Dini

Terancam 10 Tahun Penjara

Sebelumnya Mantan Dirut Garuda Ari Askhara diberitakan terancam pidana penjara akibat kasus penyelundupan Harley Davidson dan sepeda Brompton yang diduga ia lakukan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan penyelidikan kasus penyelundupan masih terus didalami.

Dia menegaskan, kasus penyelundupan yang dilakukan Ari Askhara berpeluang masuk ranah pidana.

"Mohon kesabaran daripada masyarakat karena memang sedang dalam proses penyidikan agar fair dan transparan. Sehingga sebaiknya mereka diberikan ruang untuk mendetailkan dan menyelesaikan dengan seadil-adilnya," ujar Heru pada Sabtu (28/12/2019).

"Dan yang jelas kami tegaskan bahwa jika ini merupakan tindak pidana, maka solusinya bukan bayar (bea masuk)," ujar dia.

Saat ini, kasus penyelundupan Harley Davidson dan dua sepeda Brompton masih dalam proses penyidikan.

Heru mengatakan, penyidik masih membutuhkan waktu agar hasil penyidikan adil dan transparan.

Dia pun menjelaskan, jika ternyata mantan Direktur Garuda Indonesia Ari Askhara terbukti melakukan tindak pidana, maka solusinya bukanlah melakukan pembayaran bea masuk dan denda, namun hukuman pidana.

Sebagai informasi, hukuman pidana penyelundupan diancam hukuman penjara paling singkat satu tahun hingga sepuluh tahun.

Penyelundupan (smuggling) merupakan tindakan memindahkan barang antar negara dengan tidak memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak memenuhi prosedur pabean.

Merujuk pada UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, penyelundupan adalah tindakan pidana ringan juga berat jika dalam dikategorikan dalam kondisi tertentu.

Dalam pasal 102 huruf a setiap orang yang mengekspor barang tanpa menyerahkan pemberitahuan pabean, dan pasal 102 huruf b, membongkar barang impor di luar kawasan pabean atau tempat lain tanpa izin kepala kantor pabean.

Dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.

Bahkan dalam pasal 102B, penyelundup bisa dikenakan pidana yang lebih berat.

Dalam pasal tersebut diatur, pelanggaran sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 102 dan pasal 102A yang mengakibatkan terganggunya sendi ekonomi negara dipidana penjara paling singkat 5 tahun dan pidana penjara paling lama 20 tahun.

Kemudian pidana denda paling sedikit Rp 5 miliar dan paling banyak Rp 100 miliar.

Denda Garuda

Adapun seperti diberitakan sebelumnya, selain pelaku penyelundupan, Kementerian Perhubungan sudah melayangkan surat berupa sanksi administratif karena Garuda melanggar PM 78 Tahun 2017 terkait dengan kesesuaian flight approval.

Berdasarkan aturan itu, Kemenhub mengharuskan Garuda membayar sanksi sangat murah yakni di kisaran Rp 25 juta hingga Rp 100 juta.

"Sanksi administratif kepada Garuda karena melanggar PM 78 Tahun 2017. Dan sudah disampaikan kepada Garuda hari ini," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana Banguningsih Pramesti.

"Kami sedang menunggu reaksinya. Ini institusi dendanya antara Rp 25 juta sampai Rp 100 juta sanksinya nanti akan kami bicarakan," ujar dia lagi.

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Kabar Terkini Mantan Dirut Garuda Ari Askhara Yang Sudah Ditetapkan Sebagai Tersangka dan di TribunnewsWiki dengan judul Ari Askhara

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved