Breaking News:

Perlukah Status Halal pada Vaksin COVID-19, Menyusul Uji Klinik di Indonesia

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya aspek hala

Editor: Alza Munzi
Perlukah Status Halal pada Vaksin COVID-19, Menyusul Uji Klinik di Indonesia
IST/dok pribadi
dr Annette MSc Phd

Trypsin adalah protein yang berasal dari pankreas babi. Hingga saat ini trypsin yang digunakan oleh teknologi dan industri hanya yang berasal dari babi, karena belum tersedianya trypsin dari sapi yang aman dan efektif.

Masalah pun muncul karena trypsin yang digunakan berasal dari pankreas babi. Padahal trypsin yang digunakan sangat sedikit (0.0001%) dan harus ditambahkan dengan serum dari sapi agar aktivitas trypsin berhenti.

Suspensi ini kemudian dicuci dengan 10 kali lipat jumlah trypsin untuk meminimalisir jumlah trypsin. Kontaminasi trypsin pada sel akan menyebabkan sel mati, tidak bisa tumbuh, dan menempel pada dasarnya.

Teknologi biomedis dunia masih menjadikan penggunaan trypsin sebagai metode paling aman dan efektif untuk memindahkan sel dalam kondisi tetap hidup. Setelah pemindahan selesai, maka penggunaan trypsin tidak lagi diperlukan.

Untuk lebih mudahnya membayangkan, bisa dianalogikan bahwa sel inang adalah seperti kue yang dikembangkan di tempat sebesar pisin, lalu dipindahkan ke piring, kemudian dipindahkan ke baki, begitu seterusnya hingga sel inang dirasakan cukup.

Untuk melepaskan kue tersebut diperlukan pisau, trypsin di sini berfungsi sebagai pisau tersebut. Sel inang atau "kue" yang sukses diangkat lalu dibiakan sebelum diinfeksi dengan virus.

Setelah diinkubasi beberapa lama, maka sel akan memproduksi lebih banyak virus dan akan melepaskannya ke media.

Lalu media tersebut akan dipanen dan dicampurkan dengan poly-ethylene-glycol yang akan berikatan dengan virus.

Campuran ini kemudian difiltrasi menggunakan membrane khusus yang kemudian akan mengikat virus. Membrane yang mengandung virus ini kemudian dicuci dan dipurifikasi.

Atau bisa juga media yang sudah dipanen difiltrasi untuk menghilangkan sel yang mati, kemudian dicampur dengan poly-ethylene-glycol.

Campuran ini kemudian diproses untuk mengendapkan virus, dan cairan sisa pun dibuang. Proses masih dilanjutkan dengan purifikasi lainnya dengan pemisahan kromatografi, untuk memastikan hanya SARS-CoV-2 yang didapat.

Setelah itu virus akan diinaktivasi dan dikemas. Dengan proses yang sedemikian panjang, apakah ada sisa trypsin yang tertinggal dan terdeteksi?

Dalam skala molekul, agak mustahil untuk menghilangkan jejak DNA babi dari vaksin. Kemampuan deteksi peralatan di laboratorium saat ini, untuk skala molekul baru sekitar 5 pictogram atau 0.000000000005g.

Sehingga, jika faktor halal didasarkan pada kemampuan pendeteksian senyawa dari babi maka semestinya dilakukan pada skala yang lebih besar dari 5 pictogram.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved