Breaking News:

Perlukah Status Halal pada Vaksin COVID-19, Menyusul Uji Klinik di Indonesia

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya aspek hala

Perlukah Status Halal pada Vaksin COVID-19, Menyusul Uji Klinik di Indonesia
IST/dok pribadi
dr Annette MSc Phd

Suspensi ini kemudian dicuci dengan 10 kali lipat jumlah trypsin untuk meminimalisir jumlah trypsin. Kontaminasi trypsin pada sel akan menyebabkan sel mati, tidak bisa tumbuh, dan menempel pada dasarnya.

Teknologi biomedis dunia masih menjadikan penggunaan trypsin sebagai metode paling aman dan efektif untuk memindahkan sel dalam kondisi tetap hidup. Setelah pemindahan selesai, maka penggunaan trypsin tidak lagi diperlukan.

Untuk lebih mudahnya membayangkan, bisa dianalogikan bahwa sel inang adalah seperti kue yang dikembangkan di tempat sebesar pisin, lalu dipindahkan ke piring, kemudian dipindahkan ke baki, begitu seterusnya hingga sel inang dirasakan cukup.

Untuk melepaskan kue tersebut diperlukan pisau, trypsin di sini berfungsi sebagai pisau tersebut. Sel inang atau "kue" yang sukses diangkat lalu dibiakan sebelum diinfeksi dengan virus.

Setelah diinkubasi beberapa lama, maka sel akan memproduksi lebih banyak virus dan akan melepaskannya ke media.

Lalu media tersebut akan dipanen dan dicampurkan dengan poly-ethylene-glycol yang akan berikatan dengan virus.

Campuran ini kemudian difiltrasi menggunakan membrane khusus yang kemudian akan mengikat virus. Membrane yang mengandung virus ini kemudian dicuci dan dipurifikasi.

Atau bisa juga media yang sudah dipanen difiltrasi untuk menghilangkan sel yang mati, kemudian dicampur dengan poly-ethylene-glycol.

Campuran ini kemudian diproses untuk mengendapkan virus, dan cairan sisa pun dibuang. Proses masih dilanjutkan dengan purifikasi lainnya dengan pemisahan kromatografi, untuk memastikan hanya SARS-CoV-2 yang didapat.

Setelah itu virus akan diinaktivasi dan dikemas. Dengan proses yang sedemikian panjang, apakah ada sisa trypsin yang tertinggal dan terdeteksi?

Dalam skala molekul, agak mustahil untuk menghilangkan jejak DNA babi dari vaksin. Kemampuan deteksi peralatan di laboratorium saat ini, untuk skala molekul baru sekitar 5 pictogram atau 0.000000000005g.

Sehingga, jika faktor halal didasarkan pada kemampuan pendeteksian senyawa dari babi maka semestinya dilakukan pada skala yang lebih besar dari 5 pictogram.

Molekul yang lebih kecil dari 5 pictogram, secara ilmiah tidak dapat dideteksi, sehingga kategorinya halal. Status halal di sini disandarkan pada kemampuan peralatan deteksi, sehingga kesimpulannya adalah bahwa trypsin dari babi tersebut sudah diupayakan untuk dibersihkan dari hasil akhir vaksin.

Bagaimana Menyikapi Aspek Halalnya?

Polemik halal atau haramnya vaksin karena pada prosesnya pernah bersinggungan dengan produk haram, maka walaupun tidak ada kandungan senyawa dari zat yang haram pada hasil akhirnya, beberapa badan penilai kehalalan tetap menganggap vaksin tersebut haram.

Sementara pada kasus vaksin dengan mRNA atau protein-recombinant, karena pada prosesnya tidak menggunakan trypsin, maka poliemik ini semestinya tidak terjadi.

Menurut penulis, kehalalan atau keharaman vaksin ini tidak menjadi sebuah urgensi. Namun yang paling penting adalah faktor keamanan vaksin.

Mengingat proses yang sedemikian cepat karena dituntut hasil yang cepat, apakah faktor keamanan sudah dievaluasi dengan baik, bagaimana efek samping yang terjadi, karena waktu uji klinis yang singkat, maka efek samping jangka panjang mungkin lengah dari pengamatan.

Mengingat teknologi yang digunakan adalah yang biasa digunakan pada vaksin-vaksin sebelumnya, diharapkan efek samping jangka panjang yang tidak diinginkan tidak terjadi, namun pada populasi tertentu seperti lansia dan bayi/anak, harus dipertimbangkan karena belum melalui uji klinis.

Lain halnya dengan adenovirus based virus besutan AstraZeneca/University of Oxford yang saat ini uji klinisnya dihentikan sementara untuk mengevaluasi efek samping yang terjadi.

Pun dengan Moderna (mRNA based vaccine) yang berusaha mencari pasien yang lebih beragam, termasuk orang tua, untuk melihat keamanan vaksin.

Selain itu, control produksi vaksin yang menggunakan trypsin sangatlah penting, karena trypsin kadang bisa terkontaminasi mikroorganisme yang lain seperti mycoplasma dan virus babi, seperti yang terjadi pada vaksin rotavirus pada tahun 2010 yang lalu yang terkontaminasi circovirus.

Tentunya dengan perkembangan teknologi, hal ini semakin diperhatikan dan diharapkan tidak luput dari pengawasan karena waktu pengembangan dan produksi yang singkat. (*)

Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved