Breaking News:

Perlukah Status Halal pada Vaksin COVID-19, Menyusul Uji Klinik di Indonesia

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya aspek hala

Editor: Alza Munzi
Perlukah Status Halal pada Vaksin COVID-19, Menyusul Uji Klinik di Indonesia
IST/dok pribadi
dr Annette MSc Phd

Molekul yang lebih kecil dari 5 pictogram, secara ilmiah tidak dapat dideteksi, sehingga kategorinya halal. Status halal di sini disandarkan pada kemampuan peralatan deteksi, sehingga kesimpulannya adalah bahwa trypsin dari babi tersebut sudah diupayakan untuk dibersihkan dari hasil akhir vaksin.

Bagaimana Menyikapi Aspek Halalnya?

Polemik halal atau haramnya vaksin karena pada prosesnya pernah bersinggungan dengan produk haram, maka walaupun tidak ada kandungan senyawa dari zat yang haram pada hasil akhirnya, beberapa badan penilai kehalalan tetap menganggap vaksin tersebut haram.

Sementara pada kasus vaksin dengan mRNA atau protein-recombinant, karena pada prosesnya tidak menggunakan trypsin, maka poliemik ini semestinya tidak terjadi.

Menurut penulis, kehalalan atau ke haraman vaksin ini tidak menjadi sebuah urgensi. Namun yang paling penting adalah faktor keamanan vaksin.

Mengingat proses yang sedemikian cepat karena dituntut hasil yang cepat, apakah faktor keamanan sudah dievaluasi dengan baik, bagaimana efek samping yang terjadi, karena waktu uji klinis yang singkat, maka efek samping jangka panjang mungkin lengah dari pengamatan.

Mengingat teknologi yang digunakan adalah yang biasa digunakan pada vaksin-vaksin sebelumnya, diharapkan efek samping jangka panjang yang tidak diinginkan tidak terjadi, namun pada populasi tertentu seperti lansia dan bayi/anak, harus dipertimbangkan karena belum melalui uji klinis.

Lain halnya dengan adenovirus based virus besutan AstraZeneca/University of Oxford yang saat ini uji klinisnya dihentikan sementara untuk mengevaluasi efek samping yang terjadi.

Pun dengan Moderna (mRNA based vaccine) yang berusaha mencari pasien yang lebih beragam, termasuk orang tua, untuk melihat keamanan vaksin.

Selain itu, control produksi vaksin yang menggunakan trypsin sangatlah penting, karena trypsin kadang bisa terkontaminasi mikroorganisme yang lain seperti mycoplasma dan virus babi, seperti yang terjadi pada vaksin rotavirus pada tahun 2010 yang lalu yang terkontaminasi circovirus.

Tentunya dengan perkembangan teknologi, hal ini semakin diperhatikan dan diharapkan tidak luput dari pengawasan karena waktu pengembangan dan produksi yang singkat. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved