Breaking News:

berita pangkalpinang

Kisah Anak Yatim Ingin Jadi Dokter, Utia Sepuluh Tahun Hidup di Panti Asuhan

Menjalani hidup di Panti Asuhan Ad-Dhuha Kota Pangkalpinang, Utia yang merupakan seorang yatim tetap optimis dapat meraih cita-citanya sebagai dokter

bangkapos.com
Utia (kanan) saat berada di panti asuhan Ad-Dhuha, Kota Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Menjalani hidup di Panti Asuhan Ad-Dhuha Kota Pangkalpinang, Utia yang merupakan seorang yatim tetap optimis dapat meraih cita-citanya sebagai seorang dokter.

Menjadi dokter bukanlah keinginan atau cita-citanya saja, namun wanita yang lahir pada 25 Mei 2003 di Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah ini punya misi lain saat berhasil meraih cita-citanya.

"Kalau cita-cita pengen jadi dokter, kenapa pengen jadi dokter ya karena melihat tenaga medis di Indonesia masih kurang apalagi saat Pandemi saat ini. Terus juga pengen membantu sesama juga, kalau cita-cita ini sejak kecil sudah pengen jadi dokter," kata Utia, Selasa (13/10/2020).

Utia yang sudah 10 tahun berada di panti asuhan beralamat di Jalan Melati 1 Kota Pangkalpinang, ini juga mengungkapkan kesan-kesannya selama berada di panti asuhan ini.

"Selama di sini gak keberatan karena sudah sejak kelas tiga SD sampai kelas tiga SMA, di sini enak soalnya diajarkan yang baik-baik. Kalau momen sedih itu karena jarang pulang setahun sekali, kalau pulang seneng ketemu mama," jelasnya.

Seementara itu Pengelola Panti Asuhan Ad-Dhuha, Sunartik mengungkapkan hal yang sama mengenai suka duka mengajarkan 32 orang yang terbagi,  enam orang yatim piatu, 19 orang yatim dan tujuh orang piatu.

"Momen bahagia itu banyak kalau berkumpul sangat menyenangkan, tapi kalau momen sedihnya kalau seketika inget anak-anak misalkan inget keluarga anak-anak yang jarang dijenguk. Saya punya anak tiga, jadi tentunya saya merasakan sedihnya," tambah Sunartik.

Mengenai kebutuhan, Sunartik mengakui ada penurunan bantuan dari para donatur sebesar 70 persen, sejak sebelum Pandemi Covid-19 terjadi.

"Kalau kebutuhan pokok Alhamdulillah cukup, tapi yang lain masih ada kekurangan seperti kebutuhan sabun itu kita aja bisa habis Rp 1,3 juta untuk beli sabun. Terus juga biaya sekolah karena anak-anak ada yang diswasta, jadi kami masih cari untuk itu," ungkapnya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy).

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved