Breaking News:

Mengenal Tradisi Rebo Kasan, Konon Ada 320.000 Sumber Penyakit dan 20.000 Bencana

Di Pulau Bangka perayaan Rebo Kasan merupakan salah satu perayaan ritual adat yang dilaksanakan masyarakat Desa Air Anyir

Penulis: Iwan Satriawan (Wan) CC | Editor: Iwan Satriawan
istimewa
ilustrasi 

Jika di Banjar dikenal sebagai Arba Mustamir maka di masyaralat Jawa disebut Rabo Wekasan.

Rabu Wekasan, Rebo Wekasan, atau Rebo Pungkasan adalah nama hari Rabu terakhir di bulan Safar pada Kalender lunar versi Jawa.

Pada hari itu biasanya dimulai rangkaian Adat Safaran hingga berakhir di Jumat Kliwon bulan Maulid/Maulud.

Upacara ini berupa Sedekah Ketupat dan Babarit di daerah Sunda kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap.

Keistimewaan hari ini yakni dimana satu satunya hari yang tidak tergantung pada hari pasaran dan neptu untuk melakukan suatu upacara adat.

Catatan dalam adat Kejawen hari pasaran dan neptu adalah sangat penting demi keselamatan dan berkah dari acara, kecuali pada hari ini.

Konon ini adalah hari datangnya 320.000 sumber penyakit dan marabahaya 20.000 bencana.

Maka rata-rata upacara yang dilaksanakan pada hari ini adalah bersifat tolak bala.

Di sebagian kalangan masyarakat Sunda juga dikenal istilah Arba Mustamir.

Menurut sebagian masyarakat Sunda bulan safar adalah bulan yang dianggap pamali untuk mengadakan pesta perayaan, seperti hajat pernikahan atau sunatan anak.

Beberapa mempercayai tentang mala petaka yang akan turun pada Rabu Wekasan.

Setidaknya ada dua musibah yang akan terjadi pada bulan ini, yaitu Paceklik Order dan Bulan Balae atau bulan bencana.

Sedekah Bubur

Dikutip dari boombastis.com, di kota Gresik tradisi Rebo Wekasan diperingati dengan saling bersedekah bubur harisa dengan orang sekampung.

Di Tasikmalaya lain lagi, yaitu dengan shalat berjamaah di akhir hari Rabu di masjid atau musala, kemudian lanjut melakukan doa bersama.

Di Cirebon, ada tradisi Ngapem dan Ngirap. Biasanya di hari Rebu Wekasan, masyarakat Cirebon akan membagi-bagikan apem ke para tetangga sebagai bentuk syukur.

Sebagai bagian dari aksi tolak balak, masyarakat Cirebon juga ada yang mandi di Sungai Drajat untuk menghilangkan yang kotor-kotor.

Sementara kalau di Probolinggo, tradisinya adalah dengan mendatangi para tokoh agama Islam secara berkelompok sambil membawa air untuk didoakan dengan tujuan demi terhindar dari balak.

Penyebutan Rebo Wekasan juga tak persis sama di setiap daerah.

Di Yogyakarta, disebut Rebo Pungkasan. Kalau di Sunda dan Banten menyebutnya Rebo Kasan.

Lalu di Madura disebutnya Rebbuh Bekasen. Di sebagian daerah lain disebutnya Rabu Bekas. Tradisinya juga bisa berbeda satu sama lain sesuai dengan yang diturunkan dari nenek moyang masing-masing.

Tapi tujuannya tetap satu, yaitu untuk menolak balak dan meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Tradisi Rebo Wekasan (Rebu Pungkasan) di Yogyakarta memiliki nilai historis yang tinggi. Menurut cerita, titual ini sudah ada sejak tahun 1784 M.

Tapi ada juga yang menyebutkan kalau tradisinya sudah ada sejak tahun 1600 M. Nah, ada cerita yang menarik dari tradisi turun menurun ini.

Upacara tersebut dilakukan atas terjadinya sebuah pertemuan antara Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan Kiai Faqih Utsman.

Kiai Faqih Utsman ini bukan orang sembarangan, ia adalah seorang ulama yang menjadi penasihat Raja Ngayogyakarta juga seorang ahli pengobatan yang memiliki kemampuan bisa menyembuhkan penyakit yang menyerang warga Wonokromo.

Di daerah Bantul, tradisi Rebo Pungkasan ini dilakukan sebagai wujud atas rasa syukur pada sang Ilahi.

Ada yang namanya kirab lemper sebagai puncak dari tradisinya. Jadi kirab ini semacam mengarak lemper raksasa dengan ukuran sekitar 2,5 meter dan diameter 45 cm.

Lemper diarak dari desa Wonokromo hingga Balai Desa Wonokromo. Dalam arakan, ada barisan Keraton Yogyakarta dan juga kelompok kesenian rakyat.

Nantinya lemper raksasa akan dibagikan ke para undangan. Lalu gunungan makan akan diperebutkan oleh masyarakat.

Ada kepercayaan bahwa orang yang berhasil mendapat gunungan makanan itu akan mendapat berkah nantinya. Tak heran puncak acara inilah yang paling dinantikan masyarakat.

Penjelasan Ustad Abdul Somad

Dipublikasikan di YouTube oleh Nasehat Islam pada 2 Juni 2018, Ustadz Abdul Somad pernah membahas tentang tradisi umat Islam Indonesia di hari Arba Mustakmir ini.

Apakah dibolehkan atau tidak dalam Islam dan bagaimana hukumnya?

“Ziarah kubur di hari Rabu terakhir bulan Safar, boleh tidak? Ziarah kuburnya boleh, bagus saja itu. Lalu berdoa memohon kepada Allah agar kita dihindarkan dari segala musibah, ini juga boleh,” jelas Ustadz Abdul Somad.

Sementara terkait keyakinan Allah menurunkan ribuan musibah di hari Rabu terakhir Safar atau Arba Musta’mir, menurutnya itu tak ada haditsnya.

“Itu menurut para ulama tasawuf, mereka dapat itu dari ilham bukan dari hadits Nabi Muhammad. Tapi, kalau mau berdoa meminta dihindarkan dari musibah, silakan saja. mau berdoa sambil bertawasul kepada wali-wali Allah juga boleh,” katanya.

Bertawasul adalah memakai atau menyebutkan nama para wali itu saat berdoa dengan harapan Allah akan mengabulkan doa kita berkat kemuliaan para wali Allah tersebut.

“Misalnya bertawasul dengan Wali Songo. Saat berdoa bilangnya begini: Ya Allah, berkat kemuliaan para wali-Mu ini, aku memohon kepada-Mu, dan seterusnya. Kalau ini boleh,” pungkasnya.

Lafaz Niat, Doa & Tata Cara Shalat Tolak Bala Rebo Wekasan / Rabu Wekasan

Melansir laman makassar.tribunnews.com, Senin (12/10/2020), masyarakat Jawa menyebut Arba Mustakmir ini sebagai Rebo Wekasan di mana ada salat sunah yang bisa dilaksanakan setelah matahari terbit.

Walau menurut sejumlah ulama, Rasulullah SAW tak pernah melakukannya, konon melaksanakan salat tolak bala di rabu wekasan menjauhkan semua bala yang akan datang kepada diri sendiri, keluarga.

Pelaksanaan sholat sunat Lidaf’il Bala diambil dari keterangan yang tercantum dalam kitab al-Jawahir al-Khomsi halaman 51-52 dilaksanakan pada pagi hari Rabu terakhir bulan Safar, sebanyak 4 rakaat 2 kali salam.

Niatnya :

Ushalli sunnatallidafi'l bala i rak ataini lillahitaala.

Setiap rakaat ba’da fatihah membaca :

- Surat al-Kaustar 17 kali,

- Surat al-Ikhlash 5 kali,

- Surat al-Falaq dan an-Nas masing-masing 1 kali.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved