Breaking News:

Buaya di Babel

VIRAL, Buaya Muncul di Jerambah Gantung yang Roboh, Ini Kisah Mistis Buaya Jerambah Gantung

Dalam video durasi singkat itu terlihat seekor buaya yang menampakan diri di permukaan sungai dekat Jembatan Gantung

Penulis: Iwan Satriawan (Wan) CC | Editor: Iwan Satriawan
Darwinsyah/BangkaPos
Ilustrasi Buaya 

"Kadang kalau ada anak-anak yang mandi di sungai terus mereka merasa
terganggu, dua buaya itu suka datang ke mimpi. Kalau mandi di sungai tak masalah, asalkan jangan terlalu berisik," ungkap Bujang.

Setelah mimpi itulah, Bujang langsung memberitahu masyarakat sekitar untuk berhati-hati ketika mandi di sungai.

Artinya Bujang sangat berharap kelestarian sungai dan kawasan hutan sekitar tetap terjaga.

"Walaupun dibangun jembatan yang baru, sungai harus tetap kita jaga jangan sampai tercemar atau kotor. Kawasan hutan di sini tidak boleh ditebang, kelestarian hutannya yang harus kita jaga," harapnya.

Dia menyebutkan, hal tersebut termasuk menghargai binatang yang hidup di sungai.
"Kalau mereka merasa terganggu, sudah tandus, bakau juga tidak ada bisa jadi dia menyerang kita, seperti kita kalau rumah digusur rasanya seperti apa," tegas Bujang.

"Kalau mau bangun-bangun silakan, asalkan itu tadi sungainya harus kita pelihara, pohon-pohon kita jaga, meski nanti bukan wali kota yang ini lagi, sungai harus tetap dijaga," tambahnya.

Buaya Berkeliaran di Laut

Erpi satu diantara nelayan pantai Pering, menyiram buaya yang kepanasan karena terik matahari, Minggu (18/10/2020)
Erpi satu diantara nelayan pantai Pering, menyiram buaya yang kepanasan karena terik matahari, Minggu (18/10/2020) (Posbelitung.co/Suharli)

Belum genap satu minggu, warga Kabupaten Belitung Timur (Beltim) berhasil menangkap dua ekor buaya yang dianggap meresahkan warga setempat.

Buaya pertama sepanjang 3meter berhasil ditangkap Maman Kelentuar (52) Pawang buaya di Belitung Timur, Rabu (14/10/2020) di Kolong Nek Nuje, Kampung Skip, Desa Lalang.

Selanjutnya pada Minggu (18/10/2020) buaya sepanjang 3 meter ditangkap warga di Pantai Pering, Dusun Air Sagu, Desa Mayang, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dikutip dari Posbelitung.co, selama ini buaya di sekitar Pantai Pering Kelapa Kampit ini telah meresahkan warga.

Buaya ganas sering kali melintas di jalan.

Apalagi sejak terjadi banjir 2017 lalu, buaya di sekitar Pantai Pering sering menampakkan diri.

Bahkan ketika berpapasan, buaya di perairan tersebut langsung mengejar warga.
Hal ini membuat warga takut diterkam buaya ganas itu.

Warga Dusun Air Sagu sudah sejak seminggu lalu berusaha untuk menangkap hewan buas itu.

Warga Desa Mayang, Dirga menuturkan populasi buaya di sana cukup banyak karena telah lama berkembang biak.

"Kami berinisiatif setelah seminggu kami memasang jerat, semalam buaya itu tertangkap," ungkap Dirga kepada Posbelitung, Minggu (18/10/2020).

Pantauan Posbelitung.co, buaya tersebut berukuran sekitar tiga meter lebih.
Ini adalah buaya betina.

Kerap memangsa hewan peliharaan warga

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar, buaya di Pantai Pering sering memangsa hewan peliharaan mereka.

Nelayan juga sudah mulai was-was dengan keberadaan buaya yang ada di Pantai Pering, Kecamatan Kelapa Kampit Belitung Timur ini.

Mereka kerap bertemu buaya saat pergi atau pulang dari melaut.

"Sangat meresahkan karena saat kami mendaratkan perahu di dok pantai jadi takut, was-was apalagi ketika kami membersihkan perahu dari lumut atau mengecat , sering barang (buaya-red) timbul, itu yang meresahkan kami," keluh Erpi nelayan pantai Pering, Kelapa Kampit kepada Posbelitung, Minggu (18/10/2020).

Tak hanya itu, biasanya di area pantai tembusan dari muara ke Pantai Pering memang menjadi tempat buaya berenang.

Anak-anak yang main tepi pantai sudah tidak asing lagi melihat buaya.
"Jadi semacam tontonan, takutnya waktu kita gak sadar waktu aktivitas buaya nyerang dari belakang. Sepengetahuan saya sudah ada enam ekor anjing milik warga yang diserang buaya di Pantai Pering," ungkap Erpi.

"Perkiraan ada 4 ekor buaya yang pernah kami lihat, ada yang ukuran lebih besar dari yang ditangkap ini, jadi seputaran bakau sungai. Kalau sedang bertelur biasanya di daerah kolong dekat kuburan," kata Erpi.

Dia berharap, pemerintah segera memberikan solusi apakah buaya harus ditangkap dipindahkan.

"Kalau kami masyarakatkan peralatan kurang, tempat untuk menampung juga tidak punya satu-satu harapan ya pemerintah memberikan kebijakan," harapnya.
Dua korban diterkam buaya luka parah

Konflik manusia vs buaya di Dusun Air Sagu, Desa Mayang, Belitung Timur sudah dua kali terjadi.

Dua korban tersebut selamat.

Meski demikian mereka mengalami luka berat dan harus diganjar puluhan jahitan.

"Konflik antara buaya dengan manusia terjadi dua kali dua, kali pertama saudara Zulman warga kami, yang kedua warga Dusun Penirukan yang menjadi korban," ungkap Dirga, warga yang ikut menangkap buaya di Dusun Air Sagu kepada Posbelitung.co, Minggu (18/10/2020).

Dirga berujar buaya di kolong-kolong Desa Mayang, sekitar Pantai Pering telah beranak pinak.

Dia mengaku pernah menemukan puluhan telur buaya yang sudah menetas.

"Yang saya lihat netas itu sekitar 23 ekor, kalau itu yang saya temui bersama teman-teman sekitar enam bulan lalu," kata pria yang beraktivitas sebagai nelayan dan kerja serabutan itu.

"Harapan saya sebagai masyarakat Dusun, Desa Mayang kepada pemerintah, karena ini sangat sangat merasakan untuk masyarakat Dusun Aik Sagu jangan sampai timbul korban lagi, harapan saya pemerintah punya solusi untuk gimana mengurangi populasi buaya yang ada di sini sudah menjadi hama," keluh Dirga.

Kata dia, jika tidak diatasi secepatnya oleh pemerintah, maka akan banyak menimbulkan korban akibat diserang predator yang dikenal ganas ini.

"Karena kalau tidak ada solusi nungkin banyak menimbulkan korban-korban lain, jadi harapan saya kalau minta ke pemerintah harus hadir harus hadir karena fungsi pemerintah itu hadir di masyarakat," harap Dirga.

Sekda Kabupaten Belitung Timur, Ikhwan Fahrozi saat dihubungi Posbelitung.co menyampaikan masyarakat harus waspada dan hati- hati ketika melakukan aktivitas di sepanjang sungai, kolong hutan bakau dan rawa-rawa.

"Polulasi buaya semakin bertambah, sementara masyarakat secara ekonomi, banyak yang bekerja di tempat atau lokasi-lokasi yang juga sebagai habitat dari hewan predator tersebut, kita utamakan kearifan lokal agar hewan-hewan ini jangan dibunuh, pindah lokasikan saja," saran Ikhwan kepada posbelitung.

Dia menyampaikan DLH Belitung Timur telah bekerjasama denagan BKSDA perwakilan di Tanjungpandan untuk mengatasi masalah ini.

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved