Breaking News:

Penanganan Covid 19

Hasil Riset Tim Pemodelan Covid-19 UI, Pencabutan PSBB Harus Diikuti 3T Secara Teratur

Hasil riset Tim Pemodelan Covid-19 FKMUI, pencabutan kebijakan pembatasan sosial harus diikuti cakupan Testing-Lacak-Isolasi.

Tribunnews/Herudin
Suasana food court di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat yang sudah tidak menyediakan meja untuk makan di tempat, Senin (14/9/2020). Pelarangan layanan makan di tempat untuk restoran dan rumah makan terkait penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total di DKI Jakarta. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Hasil riset Tim Pemodelan Covid-19 FKMUI, pencabutan kebijakan pembatasan sosial harus diikuti cakupan Testing-Lacak-Isolasi (TLI) atau 3T (test-tracing-treat).

Pelacakan harus dilakukan secara cepat jika sudah diketahui ada seseorang yang terpapar Covid-19.

Hal ini penting untuk mencegah perluasan penularan virus corona di tengah masyarakat.

Anggota Tim Pemodelan Covid-19 FKMUI, dr Iwan Ariawan memaparkan hasil temuan terkait pelaksanaan pembatasan sosial skala besar (PSBB) yang dilakukan di DKI Jakarta.

Menurut dr Iwan dari hasil riset yang dilakukan pihaknya, pencabutan kebijakan pembatasan sosial harus diikuti dengan cakupan Testing-Lacak-Isolasi (TLI) atau 3T (test-tracing-treat).

"Tes, lacak, isolasi (3T) dilakukan dengan baik itu bisa menurunkan resiko untuk terinfeksi Covid-19 atau kecepatan epidemik sampai separuhnya," ujar dia dalam webinar Bappenas RI, Jumat (23/10/2020).

Baca juga: Penanganan Covid 19, Epidemiolog UI Sarankan Gencarkan Gerakan 3M Tak Perlu Lagi Perketat PSBB

Baca juga: Waspada Covid-19 Klaster Dinas Luar, Pemerintah Perlu Beri Contoh Kepada Masyarakat

Baca juga: Bangun Pabrik di Serpong, Indonesia Bakal Produksi Vaksin Covid-19 Sendiri

Ia mengatakan, penurunan kasus dapat maksimal jika tes-lacak-isolasi dilakukan secara teratur dan terarah.

"Jadi kalau kalau tes banyak dilakukan tapi acak dampaknya eggak banyak terhadap epidemi. Tes harus dilakukan banyak tapi tesnya itu diarahkan untuk kontak racing itu dampaknya banyak pada epidemi Covid-19," jelas dia.

Selain itu, akademisi ini mengingatkan agar pelacakan dilakukan secara cepat jika sudah diketahui ada seseorang yang terpapar Covid-19.

"Satu lagi sebetulnya penting adalah jeda antara pelacakan. Beberapa publikasi ilmiah ada kalau jeda pelacakannya 3 hari atau lebih, dampaknya terhadap juga kurang ada artinya, intervensi yang bisa dilakukan segera," kata dia.

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved