Breaking News:

Misteri Buaya Ditemukan di Atas Genteng Warga, Serta Kisah Mistis Pawang Didatangi 2 Wanita Berjubah

Misteri Buaya Ditemukan di atas Genteng Warga, Serta Kisah Mistis Pawang Didatangi 2 Wanita Berjubah

Penulis: M Zulkodri (CC) | Editor: M Zulkodri
kolase bangkapos.com/youtube Bang Mael Bangka dan kompas.com
Bang Mael Bangka sedang meruqyah. (insert ilustrasi foto buaya) 

Mang Syarif diam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan wartawan.

"Orang kampung yang tua-tua disini (Desa Kimak) pasti tahu kalau soal itu. Yang jelas, buaya hitam ini sudah pernah menerkam orang, sehingga harus ditangkap," elaknya.

Menurut Mang Syarif, jika buaya itu tak segera ditangkap, maka akan banyak korban selanjutnya yang jadi santapan.

"Sebenarnya buaya itu tak gampang memangsa manusia, kecuali urang e kepoen (kecuali korban melanggar pantangan). Selain itu, buaya kalau sudah pernah merasakan darah manusia, maka dia akan ketagihan," katanya.

Lalu apakah itu berarti, Korban, Sangkuriang alias Siankuri alias Biel kepun alias melanggar pantangan ghaib sehingga dimangsa buaya?

Lagi-lagi, Mang Syarif, diam sejenak sebelum menjawab.

"Kalau soal itu, biar saya saja yang tahu, tak perlu diceritakan," elaknya, seolah menyimpan rahasia mistis.

Lalu, bagaimana prosesnya sehingga buaya ini berhasil ditaklukan?

Mang Syarif bercerita seoal petunjuk ghaib yang dia dapat dalam mimpi, sebelum buaya hitam ditangkap, dua hari sebelumnya.

"Amang ade mimpei depereh urang binein, sikok bediri di adep amang, sikok agik langsung dudok de pangku amang  (saya mimpi ada dua perempuan datang. Satu perempuan bediri di depan dan satu perempuan lagi langsung duduk di pangkuan saya -red)," kata Mang Syarif.

Dalam mimpnya, lanjut Mang Syarif, perempuan yang duduk di pangkuannya, berkulit coklat dan mengenakan baju atau jubah hitam.

Sedangkan perempuan yang hanya berdiri, berkulit kuning langsat, mengenakan jubah putih.

"Sikok puteh sikok item. Yang puteh bediri, yang item dudok depangku amang (satu hitam, satu putih, yang hitam duduk di pangkuan saya)," katanya.

Dari mimpi itu pula, Mang Syarif, yakin, pancing berumpan tupai yang dia pasang di Sungai Lubuk Bunter Desa Kimak, mengenai sasaran.

Setelah terbangun dari tidur, Mang Syarif pun bersiap-siap turun ke air menggunakan perahu menyusuri sungai bersama tim.

Hasilnya, memang betul, seekor buaya sepanjang 4 meter, lebar 63 cm, bobot sekitar 350 kg, berwarna hitam, dia dapatkan.

Berikut Pantangan di Sungai 

Lain lagi kisah Mang Ademi, pawang buaya yang menangkap buaya sepanjang empat meter di Sungai Kayubesi Kecamatan Puding Besar. Ia bercerita tentang asal usul buaya tersebut dari Sungai Baturusa, dan kerap menyerang manusia, dua bulan lalu.

Buaya jenis kelamin jantan itu dipancing sang pawang, Mang Ademi (60) atas permintaan Kepala Desa (Kades) Kayubesi, Rasyidi (45) dan warga setempat.

Alasannya predator yang hidup di dua alam itu mengganggu penduduk dan membuat resah.

"Kami tangkap buaya ini menggunakan pancing nomor satu pakai tali rotan umpan tupai. Buaya ini ditangkap di Sungai Kayubesi, arah Ilir perbatasan (Dusun) Limbung (Merawang)," kata Pawang Buaya, Mang Ademi (60) ketika ditemui Bangkapos.com, Selasa (4/8/2020) di Desa Kayubesi Kecamatan Puding Besar Bangka pasca penangkapan buaya.

Keyakinan Mang Ademi pada buaya tersebut sebagai pemangsa antara lain parameternya, terlihat karena buaya ini sudah tak bergigi lagi (ompong).

"Giginya ompong karena diperkiraan sudah sering menerkam orang. Buaya ini diperkirakan berasal dari arah Sungai Baturusa. Masih ada satu lagi buaya yang akan kita pancing, karena diperkirakan bakal mengganggu manusia," kata Mang Ademi.

Kepala Desa (Kades) Kayubesi, Rasyidi alias Rosidi (50) ditemui pada kesempatan yang sama, Selasa (4/8/2020) mengatakan, sudah tiga kali buaya menungggu warga di Desa Kayubesi. Karena itu Kades meminta bantuan pawang menaklukan buaya agar warga tidak resah.

Mengenai sugesti spiritual pada buaya buruannya, Ademi menyebut secara kasat mata, buaya ompong yang ia tangkap bukan buaya biasa.

"Sejak beberapa tahun terakhir buaya sering ganggu manusia. Mungkin habitatnya rusak karena banyaknya perusahaan kelapa sawit sehingga makanannya punah. Selain itu, ada anggapan buaya yang ditangkap ini bukan buaya biasa, tapi buaya 'peliharaan orang'. Ini bukan buaya kodok karena ukurannya cukup besar. Kalau buaya kodok biasanya pendek, sedangkan ini ukuranya besar," jelas Pawang Mang Ademi.

Sementara itu ternyata banyak pantangan di Sungai Kayubesi Kecamatan Puding Besar Bangka. 

Sejumlah larangan yang harus diindahkan saat berada di aliran sungai ini.

Jika melanggar, maka buaya sungai itu akan mengamuk, memangsa siapa saja yang ditemuinya.

"Pantangannya kalau mandi di sungai dak boleh mandi (hanya) pakai sempak (celana dalam), tapi harus pakai celana (celana pendek)," kata Mang Ademi menyebut pantangan pertama agar terhindar pada terkaman buaya.

Pantangan kedua, siapa saja yang berada di aliran Sungai Kayubesi, tidak boleh sesumbar atau sombong seolah paling hebat.

Sebab kesombongan akan membuat penghuni sungai marah.

"Dak boleh berlagak jadi dukun, tidak boleh sombong takabur (di sungai), itu pantangan," kata Mang Ademi.

Pantangan ke tiga, siapapun tidak boleh menebar pancing (rawai atau tajur) yang dibiarkan berlama-lama di tepi sungai sebab mata pancing yang tajam menjadi ancaman bagi buaya.

"Rawai atau pancing tidak boleh ditinggal di pinggir sungai. Boleh mancing tapi jangan pasang pancing (tajur) dibiarkan di pinggir sungai. Masalahnya jorang (buaya) takut matanya kena mata pancing. Sehingga buaya mengganggu, itu menurut kepercayaan," imbaunya.

Pantang keempat, para pemancing ikan atau udang, sebaiknya tidak menggunakan umpan yang aneh-aneh.

Sebab keberadaan umpan pancing yang tidak lazim, membuat buaya mengeluarkan energi negatif.

"Tidak boleh mancing pakai umpan ikan air laut," katanya.

Pantangan yang kelima, jangan pernah mempermainkan buaya agar predator buas ini tak menyimpan rasa dendam.

"Karena tempohari ada oknum aparat saya lihat mancing (buaya) main-main pakai umpan bebek. Begitu saya datangi dia (oknum) lari, itu tidak boleh karena bikin buaya kesal," kata Ademi seraya menyebut pantangan ke enam agar masyarakat tidak membuang bangkai ayam atau usus ke aliran sungai agar tak memancing kemunculan buaya.

Sementara itu saat ditanya apakah ada gangguan gaib ketika Mang Ademi akan turun memancing buaya pemangsa manusia di sungai ini? Ayah delapan anak, empat cucu yang "ditokohkan" warga itu mengakuinya.

Dalam dunia kasat mata di luar akal sehat, Mang Ademi mengaku sempat mendapat semacam serangan atau gangguan gaib, serta petunjuk.

Maklum buaya ompong berusia 112 tahun yang bakal ia taklukkan menurut kaca mata batinnya, merupakan sosok "buaya peliharaan" seorang dukun di daerah lain.

Namun apapun yang terjadi, Mang Ademi tak berubah pikiran, tetap melanjutkan perburuan buaya karena telah mengganggu penduduk setempat.

"Ya...ada gangguan, ada petunjuk dalam mimpi," katanya tanpa memperjelas bentuk gangguan dalam mimpi yang ia maksud.(*)

(Bangkapos.com, Fery Laskari/Suryamalang)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved