Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tak Hanya Karena Iklan, Faktor Lingkungan Paling Dominan Picu Anak Merokok

Yang Gusti Feriyanti, menilai iklan rokok tidak terlalu mempengaruhi peningkatan anak merokok.

Ist/Gege
Akademisi sekaligus Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka, Yang Gusti Feriyanti 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Akademisi sekaligus Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka, Yang Gusti Feriyanti, menilai iklan rokok tidak terlalu mempengaruhi peningkatan anak merokok.

"Iklan atau promosi memang menjadi salah satu dari aspek yang bisa mempengaruhi orang atau anak merokok. Tetapi kalau dari kacamata saya, tidak terlalu mempengaruhi sebab keinginan anak merokok itu tidak hanya dipicu oleh iklan dan promosi saja. Namun ada pengaruh dari lingkungan atau keluarga yang menjadi role model yang bisa mempengaruhinya," ungkap wanita yang kerap disapa Gege, Rabu (4/11/2020).

Diakuinya perilaku anak berubah-rubah dari tahun ke tahun, Iklan rokok sendiri jarang terlihat di tv, saat ini bisa saja dikarenakan bujet yang mahal.

"Anak-anak milenial saat ini tidak menyukai menonton tv, sikap mereka merokok saya rasa bukan dari itu. Kalaupun mereka bermain gadget, kadang pun sering di skip iklan-iklan ini," katanya.

Iklan memang bentuk komunikasi pemasaran yang digunakan oleh industri rokok, dalam memperekenalkan produk andalannya kepada pelanggan. Tetapi masing-masing strategi pemasaran tentu ada kelebihan dan kekurangan.

"Misalnya, saat pemasaran suatu produk dengan iklan, mereka harus paham dulu kategori penonton seperti apa, kebiasan penonton itu lebih menyukai menonton tv atau mendengar radio. Sehingga dari hal-hal ini, tidak semua aspek iklan bisa mempengaruhi anak untuk merokok. Namun lebih ke faktor lingkungan anak tersebut bergaul," kata Gege.

Secara perspektif komunikasi keluarga bahwa lingkungan terdekat adalah keluarga yang memang sebagai institusi terkecil dan memiliki peran yang sangat penting.

Dari keluarga itu pendidikan awal dimulai, keluarga mengajarkan bagaimanan anak bersikap dan tindakan yang baik dan bergaul di lingkungan.

Keluarga merupakan pondasi pertama yang mengajarkan nilai norma, tata pikir, sikap, bahkan budi pekerti. Prinsip inilah yang diajarkan kepada anak, orangtua itu punya kewajiban kepada anak.

"Misalkan keluarga tersebut dari orangtua yang merokok, si anak akan melihat contoh ini saat tumbuh kembang anak maka bisa saja timbul keinginan untuk merokok karena meniru sikap orangtuanya. Di dalam keluarga bukan terdiri dari bapak dan ibu saja, keluarga satu kesatuan juga ada saudara, kakek dan nenek.

Halaman
1234
Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved