Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Ritel Tradisional vs Modern, Begini Pandangan Ekonom

Akhir-akhir ini warga Pangkalpinang dan Sungailiat mulai dimanjakan dengan banyaknya ritel modern dari waralaba nasional.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Sela Agustika
Suasana Toko Indomaret di Jalan Mentok, Keramat, Kota Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Akhir-akhir ini warga Pangkalpinang dan Sungailiat mulai dimanjakan dengan banyaknya ritel modern dari waralaba nasional.

Kehadiran ritel modern ini memberikan imbas yang mengutungkan dan tidak menguntungkan terhadap sektor usaha semacam toko kelontong dan pasar tradisional.

Sedikit banyak penghasilan toko kelontong dan pasar tradisional akan tergerus karena persaingan dan sistem yang lebih baik.

Menurut Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen STIE Pertiba Pangkalpinang Suhardi, saat ini toko kelontong harus berbagi pangsa pasar dan keuntungan dengan toko modern, dengan infrastruktur yang lebih baik jelas bahwa toko modern bukanlah lawan seimbang toko kelontong dengan segala keterbatasannya.

Tidak dapat dinampikkan, toko modern memiliki daya tarik tersendiri dimata konsumen, selain tampak fisik yang modern, parkir yang representative, layout tertata rapi, harga tertera jelas, pasokan yang stabil, juga lebih bersih, pelayanan ramah, bahkan sering memberikan program diskon.

Kondisi ini menurutnya terjadi  karena tata kelola pasar modern lebih profesional dan sistem yang telah terintegrasi secara baik, berbeda halnya dengan toko kelontong yang sebagian besar masih belum tertata secara profesional dan baik.

Tak hanya itu, produk UMKM pun ikut terdampak karena keberadaan ritel modern ini.

"Tentu, sisi tidak menguntungkan lebih banyak pada UMKM, dengan segala keterbatasannya toko modern bukanlah lawan tanding yang seimbang," ungkap Suhardi.

Untuk itu diperlukan adanya keberpihakan pada UMKM, dengan cara mengatur dan mengendalikan keberadaan toko modern yang diijinkan untuk beroperasi.

Dia menilai, satu hal yang harus disepakati bersama agar bisnis ini tetap sehat bahwa, perkembangan ritel modern merupakan keniscayaan suatu peradaban.

Namun perkembangan ini tidak boleh mematikan usaha rakyat dalam bentuk toko kelontong atau pasar tradisional.

"Perkembangan sepesat apapun, tidak boleh menjadikan kita sebagai mahluk homoekonomikus yang hanya mementingkan untung rugi, diri sendiri, dan yang mengejar tujuan yang ditentukan secara subjektif secara optimal," jelas Suhardi.

Dengan demikian, penetrasi pasar modern, harus dikendalikan oleh pemerintah daerah dengan mempertimbangkan jarak, perkembangan ekonomi, tingkat kepadatan dan pertumbuhan penduduk, aksesibilitas wilayah (arus lalu lintas).

Selain itu adanya dukungan keamanan dan ketersediaan infrastruktur, perkembangan pemukiman baru, pola kehidupan masyarakat setempat, jam kerja toko swalayan yang sinergi dan tidak mematikan usaha toko eceran tradisional disekitarnya.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved