Breaking News:

Kisah Sukses

Pemetik Sawit di Bangka Belitung Bersukaria, Upah Sehari Setengah Juta Rupiah

Keringat mengucur deras, hingga baju pun kering di badan. Tak peduli kulit legam, yang penting asap dapur terus mengebul. Begitulah potret kawanan..

bangkapos.com/ferylaskari
Pian alias Iyan (30), Pemetik TBS Sawit di Pulau Bangka 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Keringat mengucur deras, hingga baju pun kering di badan. Tak peduli kulit legam, yang penting asap dapur terus mengebul. Begitulah potret kawanan si pemetik buah (TBS) kelapa sawit di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Teriknya mentari, tak pernah mereka hiraukan. Begitu pula lebatnya hujan, seolah biasa. Buruh harian lepas ini terus melangkah. Satu persatu pohon kelapa sawit  mereka datangi. Berbekal alat petik berupa dodos dan eggrek, mereka tampak seperti serdadu perang.

Hingga terdengar suara keras . "Buukk..," setandan buah (TBS) kelapa sawit jatuh dari ketinggian, membentur permukaan tanah. Pria telanjang dada itu tersenyum puas. Tandan buah segar (TBS) bobot sekitar 30 kg, berhasil ia petik. 

Dalam hitungan detik, Pian alias Iyan (30), nama pria ini, melanjutkan langkah mendatangi pohon sawit berikutnya. Gerakan serupa ia lakukan. Alat petik berbentuk cerulit tajam bergagang panjang kembali ia kibaskan pada tangkai tandan buah yang melekat di sela pelepah pohon, dan terdengar lagi suara dentuman keras, jatuhnya tandan buah berikutnya.

Setelah ratusan pohon jadi sasaran, pria beranak satu itu mengusap keringat menggunakan baju yang ia belit di bahu. "Ngasoh luk suat (istirahat dulu sejenak -red)," kata pria asal Desa Sempan Kecamatan Pemali Bangka itu, usai menenggak minuman pelepas dahaga.

Sekilas terlihat nafasnya terengah-engah, namun raut bahagia terpancar jelas. Maklum masa panen raya kelapa sawit di sejumlah kebun petani lokal jadi penyebabnya.

Pian ikut merasa untung karena jerih payahnya sebagai pemetik buah, dibayar tergantung hasil panen, yaitu upah Rp150 perkg atau Rp150 Ribu perton TBS, hasil panen kebun petani. "Alhamdulilah, upah petik yang kami dapatkan lumayan sejak petani sawit panen raya," katanya.

Profesi Pian memang tak terikat pada pihak mana pun. Ia hanya seorang pekerja yang menjual jasa sebagai tukang petik di kebun petani. Pemilik kebun di mana pun bisa menggunakan jasa petik Pian. "Dalam satu bulan terakhir, cukup banyak buah petani yang kami petik," kata Pian seraya menyebut, ia tak sendiri, dalam satu rombongan pekerja terdiri dua orang pemteik dan dua orang tukang angkut buah menggunakan gerobak sorong atau arco.

Pian diam sejenak seraya matanya menerawang ke arah langit. Tak lama terlihat asap mengebul dari bibirnya. "Kalau buah petani banyak, maka upah kami pun banyak. Kalau musim panen raya seperti ini, dalam sehari kami bisa dapat upah empat ratus ribu, bahkan pernah dapat upah tujuh ratus ribu rupiah perorang dalam sehari.

Karena dalam sehari kami pernah panen belasan ton. Kalau panen banyak dalam sehari rata-rata bisa dapat upah petik rata-rata setengah juta perorang," katanya begitu bahagia.

Sebelum bergegas melanjutkan pekerjaaanya, Pian sempat berkata "uang saya kasih istri, buat makan, buat beli rokok dan keperluan lain.  Sisanya buat tabung, dua puluh ribu sehari," katanya.

Namun tentu saja, masa bahagia tak selalu mereka miliki, seperti musim panen saat ini. Pada saat masa panen raya di kebun petani berakhir, maka pendapatan Pian dkk ikut menurun. "Kalau sedang tidak musim panen raya, upah borong kami tak seberapa, kadang hanya seratus ribu rupiah sehari, bahkan kadang tak sampai seratus ribu, karena upah tergantung jumlah tonase panen atau jumlah buah yang dipetik," katanya.

Apalagi, mereka hanyalah pekerja atau buruh harian lepas, tak ada tunjangan kesehatan, tak ada tunjangan pensiuan atau tunjangan lainnya. "Ya, itulah bedanya antara buruh perusahaan perkebunan dengan buruh harian lepas seperti kami. Kalau buruh perusahaan perkebunan, upah mereka kecil, tapi mereka dapat tunjangan, sedangkan kami tidak," kata Pian seraya melangkah melanjutkan pekerjaan.

Sementara itu dikutip pada laman Tribunnews.com disebutkan, Kementerian Ketenagakerjaan melalui Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) mengadakan Webinar Kader Norma Ketenagakerjaan (KNK) Sektor Perkebunan Kelapa Sawit pada Senin (9/11/2020).

Direktur Bina Penegakan Hukum Ketenagakerjaan, M Iswandi Hari menjelaskan, KNK merupakan personel perusahaan yang telah mendapat pembekalan mengenai norma ketenagakerjaan agar memiliki pemahaman dan kemampuan membantu pengusaha dalam melaksanakan norma-norma ketenagakerjaan di perusahaan.

"Dalam perkembangannya hingga Juli 2019, KNK terdapat di 22 provinsi dan 648 perusahaan. Adapun jumlahnya terbagi menjadi KNK Muda sebanyak 925, KNK Madya sebanyak 250, dan KNK Utama sebanyak 162," kata Iswandi dalam keterangannya, Selasa (10/11/2020).

Output dari KNK, tersusunnya rekomendasi usulan perbaikan terkait dengan isu-isu ketenagakerjaan dalam sektor perkebunan kelapa sawit.

Terselenggaranya pendidikan dan pelatihan KNK dan ahli K3 pada perkebunan kelapa sawit secara berkala di 26 provinsi penghasil kelapa sawit.

Output lainnya, ialah terlaksananya sosialisasi dan diseminasi regulasi kepada perusahaan dan perkebunan kelapa sawit meliputi penyampaian dan penanganan permasalahan, K3, serta jaminan sosial ketenagakerjaan secara berkala di 26 provinsi penghasil kelapa sawit.

"Terlaksananya pengawasan pelaksanaan regulasi meliputi K3 dan jaminan sosial ketenagakerjaan untuk usaha perkebunan kelapa sawit pada 26 provinsi penghasil kelapa sawit secara berkala," kata Iswandi.

Iswandi memastikan,Kementerian Ketenaga-kerjaan dalam hal ini Direktorat Jenderal Binwasnaker dan K3 mendukung penuh Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Tahun 2019-2024 dengan mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas KNK.

Pihaknya juga menyatakan siap mengawal pelaksanaan regulasi meliputi K3 dan jaminan sosial ketenagakerjaan untuk usaha perkebunan kelapa sawit.

Sedangkan Deputi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Moch Edy Yusuf menyatakan bahwa pemerintah memiliki perhatian sangat besar terhadap kelapa sawit Indonesia.

Sebab, kata Edy, potensi kelapa sawit sangat besar, yakni menjadi market share dan eksportir terbesar di dunia.

"Pada 2019, ekspor kelapa sawit sebesar 37,3 juta ton, sementara market share sebanyak 55 persen. Dan pertumbuhan kelapa sawit rata-rata mencapai 8 persen, dan ekspor rata-rata mencapai 7 persen," kata Edy.

Sementara dilihat dari luas lahannya, berdasarkan data terakhir, luasnya16,381 juta hektar dengan persebaran di Sumatera, di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan sedikit di Jawa.

Adapun dari aspek tenaga kerja, kelapa sawit menyumbang 6,9 juta pekerja di sektor hulu (perkebunan) dan 16,2 juta pekerja di sektor hilir (industri).

Menurutnya, kontribusi atas besarnya jumlah tenaga kerja itu membuat pemerintah terus menaruh perhatian pada sawit.

Deputi Direktur Kepesertaan Korporasi dan Institusi BPJS Ketenagakerjaan, Zainudin, mengatakan, kelapa sawit merupakan salah satu industri yang tidak terdampak Covid-19. Bahkan, sawit akan terus menjadi komoditi yang sangat strategis untuk Indonesia.

"Makanya saya sering sampaikan, sawit itu harga diri bangsa. Jadi harus kita perjuangkan bersama," kata Zainuddin.

Zainuddin juga menyatakan bahwa kini pihaknya memiliki lima program jaminan sosial setelah kehadiran UU Cipta Kerja. Lima jaminan tersebut, ialah jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kehilangan pekerjaan.

Perwakilan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Yuli MY mengemukakan enam isu dan persoalan pekerja pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Keenam isu tersebut mengenai status ketenagakerjaan, dialog sosial hubungan industrial, penerapan K3 & kesehatan kerja, pekerja anak, pengupahan, dan pengawasan pemerintah.

Dalam menjawab enam tantangan tersebut, pihaknya bersama-sama dan berkolaborasi dengan NGO, perwakilan pekerja, pemerintah, dan korporasi.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kemnaker Perkuat Pengawasan Sektor Perkebunan Kelapa Sawit, https://www.tribunnews.com/bisnis/2020/11/10/kemnaker-perkuat-pengawasan-sektor-perkebunan-kelapa-sawit?page=all.

Penulis: Fery Laskari
Editor: Fery Laskari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved