Breaking News:

Nelayan Tetap Bertahan hingga KIP Pergi dari Pantai Matras

Koordinator Nelayan Kontra KIP Laut Matras, Suhardi alias Ng Ngi Kew menegaskan masyarakat nelayan akan terus bertahan untuk melakukan protes

Bangkapos.com / Edwardi
Para istri nelayan memasak untuk lauk makan siang para nelayan yang bertahan di pondok-pondok nelayan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Koordinator Nelayan Kontra KIP Laut Matras, Suhardi alias Ng Ngi Kew menegaskan masyarakat nelayan akan terus bertahan untuk melakukan protes dan demo di pinggiran Pantai Matras Sungailiat ini hingga kegiatan penambangan KIP oleh para mitra PT Timah Tbk menghentikan kegiatan dan pergi dari perairan laut Matras dan sekitarnya.

"Kita hari ini ada tamu dari Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Babel yang merupakan utusan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI bersama Pengurus Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia  (LKPI) datang bertemu nelayan di Pantai Matras ini, kita juga menggelar doa bersama di pinggir Pantai Matras memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa," kata Ngi Kew didampingi rekan-rekannya di salah satu pondok nelayan Pantai Matras, Rabu (11/11/2020).

Diungkapkannya hingga besok aksi protes ini akan terus dipenuhi para nelayan dari berbagai daerah yang bergabung mulai dari Kuala, Matras, Sinar Jaya, Jelutung , Deniang, Aik Antu, Bedukang, Tuing Riausilip  hingga Pesaren, Pejem Belinyu akan bergabung ikut ke sini.

"Massa nelayan akan terus bertambah banyak namun kita tahu harapkan meskipun semakin banyak namun aksi ini harus berlangsung dan terjaga tetap kondusif, jangan sampai terjadi bentrok antara nelayan dengan aparat keamanan. Kalau KIP tetap ngotot terus bekerja di sini maka saya selaku koordinator nelayan juga tidak akan mampu mengurusnya kalau sampai nelayan ini semakin marah dan banyak massanya maka akan semakin susah menahannya," imbuh Ngi Kew.

Diungkapkannya, keempat KIP yang saat ini berada di perairan laut Matras terus bekerja, mereka hanya berhenti bekerja saat para nelayan demo mendatangi kapal kemarin tetapi setelah itu mereka bekerja kembali.

"Bapak lihatlah air laut Matras sudah keruh dan berlumpur di seputaran KIP-KIP itu , bagaimana lagi kami mau mencari ikan di sana, PT Timah  mengatakan itu daerah IUP mereka , mereka bekerja sudah sesuai SOP itu katanya, nah kami nelayan ini tidak ada lagi tempat kami untuk mengadu dan mencari tempat untuk mencari nafkah bagi keluarga kami, memang PT Timah itu atas nama BUMN tetapi KIP-KIP itu milik mitra swasta , milik pribadi-pribadi pengusahanya. Sekarang yang akan matinya siapa ya kami inilah para nelayan yang mencari ikan di perairan laut itu," imbuh Ngi Kew.

Ngi Kew masih berharap pemerintah daerah , wakil rakyat daerah hingga pusat agar peduli dan membela nasib rakyat kecil, apa gunanya Indonesia merdeka tetapi nasib nelayan tidak merdeka.

"Kita mau mengadu ke pihak manapun saat ini sudah tidak ada lagi pihak yang peduli dan mau membela nasib para nelayan, mereka hanya membutuhkan suara rakyat saat ada pemilihan bupati, gubernur , DPRD , DPR dan DPD RI saja , saat mereka sudah jadi Maja mereka sudah tidak memperdulikan rakyat lagi," tukas Ngi Kew.

Baca juga: Nelayan Gelar Salat Hajat, 4 KIP di Perairan Laut Matras Terus Beroperasi

Saat ditanya mengapa nelayan kontra KIP tidak ada yang masuk saat rapat di kantor DPRD Kabupaten Bangka dan hanya diwakili pengacara saja, Ngi Kew mengaku mereka sudah datang ke Kantor DPRD Kabupaten Bangka pada hari Senin (09/11/2020) itu namun tidak diperbolehkan masuk alasan karena ada wabah pandemi Covid-19.

"Memang saya ini nelayan asal Aik Antu Deniang karena saat ini daerah tersebut zona merah Covid-19 sehingga saya tidak diperbolehkan masuk , karena saya tidak boleh masuk maka teman-teman nelayan lainnya juga tidak mau masuk , memang dari pengurus LKPI minta agar rapat ditunda hingga dua minggu mendatang dengan catatan KIP jantan masuk dulu beroperasi nah sekarang ini saat ada rapat di DPRD Kabupaten Bangka itulah KIP-KIP datang masuk ke perairan laut Pantai Matras Sungailiat, artinya permintaan dari DPRD Kabupaten Bangka ini tidak dipandang pihak PT Timah Tbk," imbuh Ngi Kew.

Diungkapkannya, saat para nelayan datang ke KIP -KIP tidak diperbolehkan dan dihalangi untuk bisa naik dan masuk ke KIP karena ada petugas keamanan bersenjata lengkap menjaga dan memperingati para nelayan dengan pengeras suara agar jangan sampai ada yang naik ke kapal.

"Selain itu dari udara juga tampak ada satu helikopter yang terbang rendah memutari KIP-KIP tersebut seolah-olah mengancam para nelayan yang demo, kami ini bukan teroris , jantan benturkan para nelayan dengan petugas keamanan," harap Ngi Kew.

Diakuinya hari ini memang tidak ada satu pun perahu nelayan yang berangkat demo ke laut menuju KIP -KIP itu, karena pihaknya masih menahan diri khawatir timbul bentrokan di lapangan.

"Saya khawatir kalau ada satu perahu saja yang turun demo ke laut maka puluhan perahu lainnya juga akan turun menghalau KIP-KIP itu, saya selaku koordinator juga tidak akan mampu menghalau mereka kalau semuanya sudah emosi," imbuh Ngi Kew.

(Bangkapos.com /Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved